Joyce Kimutai, peneliti di Imperial College London dan penulis utama studi tersebut, mengatakan bahwa menemukan hubungan yang jelas ini signifikan meskipun model iklim tropis memiliki keterbatasan.

"Model iklim biasanya kesulitan menangkap skala penuh tren curah hujan tropis ketika kita melihat kejadian ekstrem seperti ini," kata Kimutai.

Ia menekankan bahwa temuan ini menggarisbawahi peran aktivitas manusia dalam mendorong pola cuaca yang merusak.

"Dikombinasikan dengan tren yang lebih basah dalam data observasi, jelas bahwa pemanasan akibat manusia membuat peristiwa ini lebih buruk dan lebih basah, dengan dampak yang menghancurkan," ujar Kimutai.

Kimutai juga menyerukan akuntabilitas global, dengan mencatat bahwa negara-negara yang paling menderita dampak seringkali paling tidak bertanggung jawab atas emisi global.

"Studi ini adalah contoh jelas perlunya kerja sama internasional dalam keadilan iklim.

>>> BPDP Perkuat Hilirisasi Inovasi Sawit Lewat PERISAI 2026

Negara-negara industri memiliki tanggung jawab untuk membantu negara seperti Togo, Pantai Gading, dan Ghana beradaptasi dengan masalah yang semakin parah yang tidak mereka sebabkan," kata Kimutai.