Perangkat wearable seperti smartwatch telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Namun, di balik fungsi kesehatannya, ada dampak mendalam yang jarang disadari.

Pasar perangkat pintar di Indonesia terus tumbuh seiring kesadaran akan kesehatan. Model smartwatch berbasis kecerdasan buatan (AI) pun semakin banyak beredar.

>>> Niat dan Doa Buka Puasa Tarwiyah-Arafah 2026, Lengkap dengan Keutamaannya

Transformasi Identitas oleh Algoritma

Dr. Ressa Uli Patrissia, peneliti dari Universitas Sahid, mengungkapkan smartwatch kini memiliki kekuatan besar memengaruhi perilaku manusia.

Perangkat ini bukan lagi alat teknis, melainkan pendamping yang membentuk identitas pengguna.

Melalui disertasinya berjudul "AI-Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations", Ressa menyoroti fenomena baru.

Ia menemukan pergeseran jati diri pengguna yang mulai dikendalikan algoritma.

Studi ini melibatkan wawancara mendalam dengan 30 partisipan lintas generasi di Indonesia. Fokusnya pada dinamika penggunaan teknologi oleh Generasi X, Milenial, hingga Generasi Z.

Data tahun 2024 menunjukkan Generasi Z mendominasi dengan 51% pengguna, diikuti Milenial 49%. Kota besar (Tier-1) mencatat pertumbuhan tinggi dan menjadi standar gaya hidup digital.

Integrasi AI dalam jam tangan pintar menciptakan pola komunikasi baru antara manusia dan mesin.

>>> Rerata Nilai TKA SD-SMP Nasional 2026: Perbandingan Negeri dan Swasta

Pentingnya Kendali Diri di Era Digital

Meski AI menawarkan manfaat dalam memantau kondisi fisik, pengguna diimbau tetap waspada. Teknologi mampu mengakses data sensitif seperti detak jantung, kualitas tidur, hingga kondisi emosional.

Ressa menekankan manusia harus memegang kendali penuh atas dirinya. Ia memperingatkan agar tidak menjadi sepenuhnya bergantung atau diarahkan buta oleh instruksi teknologi.

Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan: