Pemerintah Resmi Pangkas Bea Masuk LPG dan Plastik Jadi 0 Persen Mulai 2026
Pemerintah Indonesia resmi menurunkan tarif bea masuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) menjadi 0 persen. Kebijakan ini mulai berlaku pada 2026.
Langkah ini diambil untuk mengatasi kendala pasokan bahan baku industri plastik nasional.
>>> Team Spirit Juara PGL Astana 2026, Libas Falcons 3-0 Tanpa Perlawanan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan hal tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Latar Belakang Kebijakan
Gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah membuat distribusi nafta tersendat. Nafta merupakan bahan baku utama produksi plastik.
LPG menjadi alternatif pengganti nafta dalam proses produksi plastik. Dengan pemangkasan tarif, pemerintah berharap pelaku industri beralih menggunakan LPG.
Kenaikan harga plastik di dalam negeri mencapai 50 hingga 100 persen. Kondisi ini mendorong intervensi pemerintah untuk menekan lonjakan harga.
Rincian Insentif
Bea masuk LPG yang sebelumnya 5 persen kini menjadi 0 persen. Kebijakan ini bersifat sementara selama enam bulan ke depan.
Selain LPG, pemerintah juga membebaskan bea masuk untuk produk plastik jadi. Produk yang tercakup meliputi Polypropylene (PP), Polyethylene (PE), Linear Low-Density Polyethylene (LLDPE), dan High-Density Polyethylene (HDPE).
>>> Fakta Final Liga Champions PSG vs Arsenal: Rekor dan Sejarah 2026
Insentif ini diberikan untuk menjaga pasokan bahan baku dan menstabilkan harga. Setelah enam bulan, pemerintah akan melakukan evaluasi.
Airlangga menyatakan, "Kita akan melihat situasi dan kondisi pasar serta ketersediaan pasokan sesudah 6 bulan berjalan."
Langkah Lanjutan
Kementerian Keuangan sedang memfinalisasi detail teknis pelaksanaan insentif. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga berkomitmen mempercepat perizinan impor.
Kemenperin akan menyusun daftar komoditas impor yang memerlukan dokumen pertimbangan teknis. Kemendag akan merevisi Peraturan Menteri Perdagangan yang relevan.
Pemerintah juga berupaya melakukan diversifikasi sumber bahan baku nafta. Negara eksportir alternatif di luar Timur Tengah sedang dijajaki.
Hingga saat ini, pemetaan negara potensial masih dalam tahap analisis. Pemerintah menargetkan pembahasan krisis bahan baku rampung pada Mei 2026.
>>> Dua Pramugari Mabuk Tunda Penerbangan, Japan Airlines Minta Maaf
Kebijakan ini diharapkan meredam gejolak harga plastik di pasar domestik. Dengan pasokan stabil, daya saing industri nasional tetap terjaga.
Update Terbaru
Veda Ega Pratama Rebut Posisi Start ke-13 Moto3 Italia
Minggu / 31-05-2026, 11:18 WIB
Cara Cek Legalitas Lembaga Kurban Terbaru 2026 agar Aman dan Tak Tertipu
Minggu / 31-05-2026, 11:18 WIB
Bruno Henrique Puji Kedalaman Skuad Flamengo Usai Tekuk Coritiba
Minggu / 31-05-2026, 11:13 WIB
Cara Cek Bansos Kemensos Tahap 2 Tahun 2026, Online dan Offline
Minggu / 31-05-2026, 11:13 WIB
San Pablo Burgos Kalahkan Coviran Granada 110-105 di Liga Endesa
Minggu / 31-05-2026, 11:08 WIB
Cara Cek Desil DTKS Kemensos 2026 Terbaru: Syarat dan Status Bansos Resmi
Minggu / 31-05-2026, 11:08 WIB
Kevin De Bruyne Kritik Taktik Conte dan Beri Sinyal Hengkang dari Napoli
Minggu / 31-05-2026, 11:03 WIB
BPIP Resmi Imbau Kibarkan Bendera Merah Putih pada 1 Juni 2026
Minggu / 31-05-2026, 11:03 WIB
Kode Redeem Universal Tower Defense X Mei 2026, Klaim Hadiah Gratis
Minggu / 31-05-2026, 10:58 WIB
Arsenal Takluk dari PSG, Declan Rice Beri Pernyataan Mengejutkan Soal Kondisi Tim 2026
Minggu / 31-05-2026, 10:58 WIB
Flamengo Bekuk Coritiba 3-0 di Maracana dan Jaga Jarak Klasemen
Minggu / 31-05-2026, 10:53 WIB
Resmi! Ancol Gratis Spesial HUT ke-499 Jakarta 2026, Cek Syarat dan Cara Daftar
Minggu / 31-05-2026, 10:53 WIB
Real Sporting Kalahkan Granada CF di Pekan Terakhir Liga Segunda
Minggu / 31-05-2026, 10:50 WIB
Timwas Haji DPR Ungkap Temuan Mengejutkan, Layanan Armuzna 2026 Harus Dievaluasi Total
Minggu / 31-05-2026, 10:50 WIB






