Dalam teologi Hindu, terdapat Dewa Kamadewa atau yang dikenal sebagai Kamajaya dalam pewayangan Jawa. Sang dewa memiliki senjata berupa busur bernama gendewa dengan lima jenis anak panah bunga.

>>> PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2026: Hadiah Juara Capai Rp519 Miliar

Lima jenis anak panah bunga milik Dewa Kamajaya memiliki efek psikologis yang berbeda sebagai berikut:

  • Aravinda (Teratai Putih): Melambangkan pesona awal atau daya tarik visual pada pandangan pertama.
  • Ashoka (Bunga Asoka): Simbol kegembiraan yang menghapus kesedihan dan rutinitas yang menjemukan.
  • Chota (Bunga Mangga): Mewakili kerinduan dan gairah untuk bersatu dalam kemanisan cinta.
  • Navamalika (Bunga Melati): Simbol pengabdian, ketulusan, dan kasih sayang yang mulai mendalam.
  • Nilotpala (Teratai Biru): Puncak tertinggi yang melambangkan penyerahan diri secara total dan komitmen tanpa syarat.

Kelima bunga ini mendeskripsikan perjalanan emosional manusia dari sekadar ketertarikan fisik hingga penyatuan jiwa. Jika terkena panah teratai biru, seseorang akan mengalami kondisi mabuk kepayang yang luar biasa.

Kondisi ini sering disebut sebagai "unmada" atau kegilaan karena terobsesi oleh cinta yang sangat dalam.

Selain itu, efek panah ini juga bisa menyebabkan "murchana" atau hilangnya kesadaran karena terpesona.

Dewa Kamajaya tidak sendirian dalam menjalankan tugasnya menyebarkan benih-benih asmara di dunia. Ia didampingi oleh istrinya, Dewi Ratih atau Kamaratih, yang merupakan dewi perawat keindahan dan kesetiaan cinta.

Sisi Sublim dan Transendensi Ego dalam Cinta

Dalam khazanah bahasa Sansekerta, terdapat kalimat puitis "Apurnah premnah kavim divasvapne jivati". Kalimat tersebut bermakna bahwa cinta yang tidak terbalas justru membuat pujangga tetap hidup dalam mimpi indah.

Ada kata "devasvapne" dalam kalimat tersebut yang berkaitan erat dengan makna dewana atau hal ketuhanan.