Banyak istilah Sansekerta yang diadopsi ke dalam bahasa Melayu Klasik melalui interaksi budaya dan karya sastra.

Penyerapan ini tetap mempertahankan akar kata namun menyesuaikan dengan konteks budaya masyarakat Melayu kala itu.

Variasi Makna dalam Akar Bahasa Sansekerta

Selain kata "dewana" yang bermakna mabuk asmara, terdapat beberapa istilah serupa dalam Sansekerta. Salah satunya adalah "unmada" yang merujuk pada kondisi kegilaan atau obsesi yang sangat kuat.

Ada juga istilah "vatula" yang digunakan untuk menyebut orang yang dianggap gila karena sifatnya yang berubah-ubah. Kata ini merujuk pada mereka yang bertindak hanya berdasarkan perasaan hati semata.

  • Dewana (देवाना): Sangat tergila-gila karena sedang mabuk asmara.
  • Unmada (उन्माद): Kondisi kegilaan, mania, atau obsesi yang mendalam.
  • Vatula (वातुल): Sifat angin-anginan atau bertindak mengikuti kata hati.
  • Murchana: Kondisi hilang kesadaran karena dekapan pesona asmara.

Tabel di atas menunjukkan betapa kayanya kosakata kuno dalam menggambarkan dinamika perasaan manusia. Setiap kata memiliki spesifikasi kondisi psikologis yang berbeda namun saling berkaitan.

Jejak Dewana dalam Sastra Melayu Klasik

Kata "dewana" lebih sering ditemukan dalam naskah-naskah lama seperti hikayat dan syair. Para pujangga masa lampau menggunakannya untuk mendeskripsikan tokoh yang kehilangan akal sehat akibat cinta.

Dalam sebuah teks hikayat, kita mungkin menemukan kalimat yang menggambarkan penderitaan Laksamana yang mabuk asmara. Disebutkan bahwa ia telah menjadi dewana oleh pesona cinta sang permaisuri.

Begitu pula dalam bait-bait syair lama, kata ini muncul untuk melukiskan wajah elok yang membuat hati menjadi dewana.

Kondisi ini membuat seseorang siang malam merasa berahi hingga melupakan dunia luar.

Istilah "berahi" dalam konteks ini merujuk pada daya tarik yang sangat kuat terhadap lawan jenis. Dewana sering dikaitkan dengan pengaruh dewa yang membuat seseorang kehilangan kendali atas emosinya.