Jatuh cinta bisa terasa sangat kuat dan mendalam. Seseorang bisa terus memikirkan orang yang disukai, rindu ingin bertemu, hingga merasa berbunga-bunga saat bersama.

Namun, rasa yang kuat tidak selalu berarti cinta yang sehat.

>>> Tito Soroti Ironi Produk Halal RI Didominasi China-Brasil

Dalam beberapa kondisi, perasaan itu bisa berubah menjadi obsesi ketika mulai dipenuhi kecemasan, dorongan mengontrol, hingga kebutuhan untuk terus mencari kepastian.

Lantas, apa bedanya cinta dan obsesi? Berikut beberapa tanda yang perlu dikenali.

Cinta Dibangun oleh Kedekatan, Gairah, dan Komitmen

Melansir teori cinta Robert Sternberg, cinta terdiri dari tiga unsur utama: intimacy (kedekatan emosional), passion (gairah), dan komitmen.

Artinya, cinta bukan hanya soal ingin memiliki. Hubungan yang sehat juga dibangun dari rasa aman, komunikasi terbuka, dan keinginan untuk menjaga hubungan bersama.

Cinta Bisa Intens Tanpa Menjadi Obsesi

Banyak orang mengira semakin besar rasa cinta, semakin besar pula kemungkinan menjadi obsesif. Padahal, keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Dalam studi "Does a Long-Term Relationship Kill Romantic Love?" , cinta romantis yang tetap kuat dalam hubungan jangka panjang justru bisa hadir tanpa unsur obsesi.

Cinta seperti ini berkaitan dengan kepuasan hubungan, kesejahteraan psikologis, dan harga diri yang lebih baik.

Obsesi Membuat Pikiran Sulit Berhenti

Perbedaan mulai terlihat ketika pikiran tentang pasangan terasa sulit dikendalikan.

Dalam konsep Relationship Obsessive-Compulsive Disorder (ROCD), seseorang bisa terus mempertanyakan hubungan, mencari kepastian, atau berulang kali mengecek perasaannya sendiri.

Pola ini bukan lagi sekadar perhatian. Jika sudah mengganggu aktivitas, memicu cemas, atau menurunkan kualitas hubungan, rasa tersebut bisa mengarah pada obsesi.

>>> Pelatih Argentina Lionel Scaloni Emosional Usai Comeback Dramatis ke Perempat Final