Obsesi Sering Menuntut Balasan Terus-Menerus

Dalam penelitian psikologi dikenal istilah limerence, yakni ketertarikan romantis yang sangat kuat dan dipenuhi pikiran obsesif terhadap seseorang.

Kondisi ini sering disertai dorongan untuk terus memikirkan seseorang, mengidealkannya, dan sangat membutuhkan perasaan tersebut dibalas.

Akibatnya, suasana hati bisa sangat bergantung pada respons orang yang disukai.

Pasangan Jadi Satu-Satunya Sumber Bahagia

Obsesi juga dapat berkembang menjadi love addiction atau ketergantungan dalam hubungan romantis.

Mengutip studi dalam BMC Psychology, kondisi ini ditandai keterikatan emosional berlebihan hingga pasangan menjadi sumber utama rasa aman, harga diri, dan kestabilan emosi.

Akibatnya, seseorang bisa bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena merasa hidupnya tidak akan baik-baik saja tanpa pasangan.

Cinta Membuat Bertumbuh, Obsesi Menghilangkan Batas Diri

Obsesi dapat membuat seseorang terus berkorban demi pasangan sampai mengabaikan kebutuhan, kesehatan mental, bahkan identitas dirinya sendiri.

Sebaliknya, cinta yang sehat tetap menghargai batas pribadi. Kedua orang bisa saling mendukung tanpa harus mengendalikan, kehilangan diri, atau merasa takut berlebihan saat berjauhan.

Cinta dan obsesi memang sama-sama bisa terasa kuat.

>>> Swiss vs Kolombia Imbang 0-0, Laga Lanjut ke Extra Time

Bedanya, cinta memberi ruang bagi kepercayaan dan pertumbuhan bersama, sementara obsesi membuat seseorang terus mengejar kepastian dan perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.