Istilah "dewana" mungkin terdengar asing bagi telinga masyarakat modern. Kata ini jarang ditemukan dalam literatur masa kini, kecuali sesekali terselip dalam bait puisi.

Para penyair modern kerap menggunakan kata ini untuk membangkitkan aura magis dan nuansa arkais pada karya mereka. Penggunaan kata tersebut dipercaya mampu menghidupkan kembali roh kepuitisan yang mendalam.

>>> Tabrakan Maut di Tol China: Minivan Kelebihan Muatan, 13 Tewas

Di tangan para pujangga kontemporer, "dewana" menjadi instrumen estetika untuk menjangkau makna yang lebih padat dan romantis.

Kata ini menggambarkan obsesi yang jauh melampaui sekadar rasa cinta atau "tresna" biasa.

Meski terasa ekstrem, kata ini merujuk pada kondisi seseorang yang sangat tergila-gila.

Dalam bahasa gaul generasi muda saat ini, derajat intensitas "dewana" bisa disetarakan dengan istilah "bucin" atau budak cinta.

Seseorang yang sedang dewana diibaratkan tergelepar tidak berdaya di hadapan sosok yang ia cintai.

Karena secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta, maka ia bisa disebut sebagai "bucin" versi klasik.

Definisi dan Asal-Usul Dewana

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi VI Daring, kata ini ditulis sebagai "de. wa.

na". Kata ini dikategorikan sebagai adjektiva (kata sifat) dan termasuk dalam ragam bahasa klasik.

Secara etimologi, kata ini diserap langsung dari bahasa Sansekerta, yaitu "dhuwana" atau "dhuvana". Makna aslinya dalam bahasa Sansekerta adalah terbakar, terangsang, atau terguncang secara emosional.

Ketika bahasa Melayu dan bahasa Indonesia menyerap kata tersebut, terjadi pergeseran makna yang cukup menarik. Kata ini kemudian digunakan untuk menggambarkan kegundahan batin akibat pesona yang luar biasa.

Perasaan tersebut diibaratkan seperti api asmara yang berkobar-kobar di dalam dada. Proses penyerapan ini terjadi pada masa pengaruh Hindu dan Buddha mulai masuk ke wilayah Nusantara.