Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Institute menyatakan bahwa pelaku usaha saat ini lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar rupiah daripada penurunan suku bunga acuan.

Hal itu terungkap dalam survei Kadin Business Pulse Kuartal II 2026 yang melibatkan 276 perusahaan anggota Kadin dari 27 provinsi.

>>> Ranking FIFA: Argentina Kini Nomor 1 Usai Kalahkan Inggris

Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian mengatakan, "Kalau kita lihat hasil survei, ternyata dunia usaha lebih mementingkan stabilisasi nilai tukar rupiah dibandingkan penurunan suku bunga."

Menurut Fakhrul, pelaku usaha saat ini lebih fokus menjaga keberlangsungan bisnis (survival) ketimbang melakukan ekspansi.

"Prioritasnya masih survival dulu, bertahan hidup. Sementara untuk mengembangkan usaha, itu nanti," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa suku bunga yang lebih rendah memang dapat mendorong perusahaan mengambil kredit untuk memperluas usaha.

Namun, kondisi tersebut belum menjadi prioritas ketika dunia usaha masih menghadapi tekanan akibat pelemahan rupiah.

"Karena kalau usahanya kencang, rupiahnya stabil. Kalau usahanya kencang, sering kali pelaku usaha bayar bunga juga tidak terlalu menjadi persoalan.

>>> Mengapa Harga Minyakita Terus Bertahan di Atas HET Rp15.700 per Liter?

Marginnya bisa dua kali lipat atau tiga kali lipat," katanya.

Sebaliknya, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya operasional perusahaan, terutama bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Berdasarkan survei, sebanyak 65,2 persen responden menilai pelemahan rupiah berdampak negatif terhadap prospek bisnis dalam 6-12 bulan ke depan.

Dampak yang paling banyak dirasakan adalah kenaikan biaya operasional.

Dalam survei yang sama, stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi faktor yang paling banyak dipilih pelaku usaha untuk memulihkan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia, dengan porsi 26,1 persen.

Selanjutnya, pelaku usaha menginginkan kepastian regulasi investasi sebesar 19 persen, kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah sebesar 18,8 persen, serta perbaikan daya beli masyarakat.

>>> Amankah Ibu Hamil Pakai Parfum? Ini Penjelasan Dokter Kandungan

Fakhrul menambahkan bahwa stabilitas rupiah menjadi syarat penting untuk mengembalikan optimisme pelaku usaha di tengah masih tingginya tekanan terhadap biaya produksi.