Subsidi pemerintah bukan satu-satunya faktor. Persaingan internal di pasar domestik China memaksa inovasi bergerak cepat.

BYD, Geely, Aion, dan merek lain bersaing di pasar dalam negeri. Kompetisi makin ketat dengan masuknya Xiaomi, Huawei, dan Alibaba ke bisnis mobil listrik.

Perusahaan teknologi yang identik dengan smartphone dan e-commerce kini memproduksi mobil. Mereka membawa DNA perusahaan teknologi konsumen.

Bill Russo mengatakan persaingan sudah bergeser. "Mereka tidak lagi berlomba dengan produsen barat.

Mereka berlomba dengan sesama mereka sendiri," ujarnya.

Pabrik Xiaomi di luar Beijing bisa memproduksi satu unit mobil setiap 76 detik. Xiaomi baru meluncurkan EV pertamanya pada 2024, tetapi kini masuk daftar merek terlaris di China.

Strateginya menghubungkan mobil dengan ponsel, aplikasi, dan perangkat rumah pintar dalam satu ekosistem. BYD mengembangkan sistem pengisian daya ultra-cepat.

>>> 4 HP dengan Snapdragon 8 Gen 5: Vivo X300 FE hingga Realme Neo 8

Mobil kini menempuh jarak hingga 400 km setelah dicas sekitar lima menit. Nyaris secepat isi bensin pada mobil ICE.

Beberapa brand lain mengembangkan teknologi ke ranah robotik. XPeng menyebut robot humanoid dan mobil terbang sebagai prioritas.

Chery Group punya langkah serupa. Menurut mereka, di masa depan orang akan lebih banyak punya robot dibanding mobil.

CEO Xpeng, He Xiaopeng, memprediksi perubahan besar. "Dalam satu dekade ke depan, setiap perusahaan mobil juga akan menjadi perusahaan robotika," katanya.

Senjakala Merek Barat di China

Selama puluhan tahun, merek asing menguasai pasar domestik China. Namun situasi berbalik kini.

Brand asing hingga 2020 menguasai 64% pangsa pasar. Tahun ini angkanya menyusut menjadi hanya 32%.