Toshihiro Mibe tidak menyembunyikan kekaguman dan kecemasannya. CEO Honda itu baru berkunjung ke sebuah pabrik di Shanghai.

"Kita tidak punya peluang melawan ini," ujarnya di hadapan media Jepang.

>>> Astronom Rilis Simulasi FLAMINGO, Petakan Evolusi Alam Semesta

Pengakuan terhadap kemajuan teknologi China itu bukan kejutan besar. Jim Farley, CEO Ford, bahkan lebih lugas.

Menurutnya, berkompetisi dengan brand China bukan sekadar persaingan biasa. "Ini adalah pertarungan untuk bertahan hidup," kata Farley.

Pergeseran Industri Otomotif Global

Auto China 2026 di Beijing bukan sekadar etalase kendaraan. Ajang itu menggambarkan realita baru: China kini menjadi penentu arah industri otomotif dunia.

Penjualan mobil listrik asal China melonjak hampir di seluruh dunia. Namun keunggulan China tidak terbatas pada mobil listrik.

Negara tersebut sudah maju dalam teknologi tinggi yang diaplikasikan pada produk mobilnya. Bill Russo, analis otomotif berbasis di Shanghai, mengamini hal itu.

"Kesalahan terbesar dunia maju adalah percaya transisi ini hanya soal mobil listrik. Ini soal siapa yang akan memimpin generasi teknologi mobilitas berikutnya," kata Russo.

Harga Lebih Murah dan Ekosistem Terintegrasi

Penerimaan mobil China di banyak negara tidak hanya karena teknologi canggih. Mobil China juga memiliki harga lebih murah dibanding kompetitor.

International Energy Agency memperkirakan biaya produksi SUV listrik kecil di China 30% lebih murah dibanding negara maju. Hal ini didorong harga baterai lebih rendah dan ekosistem suplai terintegrasi.

Keunggulan itu tidak datang tiba-tiba. Pemerintah China menggelontorkan puluhan miliar dolar ke industri EV dan manufaktur baterai selama bertahun-tahun.

Dukungan ini dikritik Uni Eropa dan Amerika Serikat yang kemudian menerapkan tarif tinggi. Namun hasilnya tidak bisa dipungkiri: ekspansi masif dan penurunan harga agresif.