Harga mobil listrik baru di Jepang bisa lebih murah daripada unit bekasnya berkat subsidi ganda dari pemerintah pusat dan Pemerintah Metropolitan Tokyo.

Fenomena ini paling terlihat pada Nissan Sakura.

>>> Messi Sanjung Timnas Argentina yang 'Tidak Normal' di Piala Dunia 2026

Mobil listrik mini itu dibanderol 2,44 juta yen atau sekitar Rp271,97 juta, namun konsumen di Tokyo bisa mendapatkannya hanya 560.000 yen (sekitar Rp62,42 juta).

Sebagai perbandingan, harga rata-rata Sakura bekas mencapai 1,51 juta yen (sekitar Rp168,31 juta), jauh di atas harga unit baru bersubsidi penuh di Tokyo.

Subsidi Dua Lapis

Menurut laporan Nikkei Asia, Sakura berhak atas dua subsidi sekaligus: subsidi nasional 580.000 yen (sekitar Rp64,65 juta) dan subsidi Tokyo 1,3 juta yen (sekitar Rp144,9 juta).

Total potongannya sekitar Rp209,55 juta.

Lapis pertama adalah subsidi nasional.

Pada Januari, pemerintah Jepang menaikkan plafon subsidi pembelian mobil listrik sebesar 400.000 yen menjadi 1,3 juta yen.

Kendaraan Toyota dan Honda berhak atas subsidi penuh 1,3 juta yen, sementara subsidi untuk Tesla sedikit di bawahnya, yakni 1,27 juta yen.

Lapis kedua adalah subsidi daerah.

Pemerintah Metropolitan Tokyo per awal Juli menaikkan plafon subsidinya sebesar 300.000 yen menjadi 1,3 juta yen sebagai respons atas lonjakan harga energi.

Mekanisme subsidi Tokyo bertingkat. Mobil listrik dari Nissan, Honda, dan Toyota langsung berhak atas subsidi 900.000 yen.

Tambahan 400.000 yen akan diberikan bila pembeli memenuhi syarat tertentu, seperti memasang alat pengisian daya dan pembangkit listrik tenaga surya.

Dengan skema itu, tanpa syarat tambahan pembeli Sakura otomatis mengantongi potongan dari subsidi nasional 580.000 yen plus subsidi dasar Tokyo 900.000 yen.