Bank Indonesia Naikkan BI Rate 50 bps untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan.
Pada perdagangan Kamis (28/5), rupiah melemah 54 poin ke level Rp17.855 per dolar AS. Pelemahan ini mendorong BI untuk bertindak cepat.
>>> Garena Hadirkan Kembali Bundle Legendary Eclipse Free Fire dengan Desain Futuristik
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kebijakan ini sudah jauh lebih progresif.
Menurutnya, BI kembali ke pendekatan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve seperti era 2018.
"BI mulai kembali ke pendekatan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve seperti era 2018," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (28/5).
Langkah ini dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan pasar keuangan. Pelaku pasar ingin melihat komitmen penuh otoritas moneter dalam menjaga stabilitas.
Fakhrul menekankan bahwa penjagaan nilai tukar memiliki urgensi yang setara dengan pengendalian inflasi. Dampak pelemahan rupiah bisa merembet ke sektor riil jika tidak segera diatasi.
"Kadang bank sentral harus bertindak sebelum inflasi benar-benar muncul," kata Fakhrul.
>>> Rupiah Melemah ke Rp17.855 per Dolar AS Akibat Tekanan Ekonomi Global
Ia menambahkan bahwa beban penanganan sentimen negatif global tidak boleh ditumpukan kepada BI sendirian. Diperlukan bauran kebijakan yang seimbang antara moneter dan fiskal.
"Kalau BI sudah mengetatkan kebijakan tetapi fiscal stance dan komunikasi kebijakan belum sinkron, maka tekanan terhadap rupiah tetap besar," tuturnya.
Pelaku pasar keuangan saat ini menantikan kejelasan arah dan kesamaan visi antara pemerintah dan bank sentral.
Koordinasi yang kuat sangat dibutuhkan di tengah ketidakpastian global akibat fragmentasi geopolitik dan mahalnya biaya energi.
"Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI," jelasnya.
Fakhrul juga menyoroti pengumuman kebijakan yang mendadak di tengah sentimen pasar buruk. Hal ini bisa memperparah ketidakpastian.
>>> Erika Carlina Ungkap Putranya Alami DNA Trauma Akibat Stres Kehamilan
Menurutnya, penyesuaian arah kebijakan fiskal nasional harus lebih adaptif terhadap perubahan struktural global. "Pasar membutuhkan roadmap penyesuaian yang jelas dan kredibel," tandasnya.
Update Terbaru
TOP 30 Rating dan Sinetron Terbaik Hari ini 29 Mei 2026 ada Arisan yang Kini jadi Juara!
Kamis / 28-05-2026, 18:00 WIB
Nonton Download Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (2026) di Bioskop Bukan LK21: Petualangan Juna Di Gunung Klawih
Kamis / 28-05-2026, 18:00 WIB
Besok 29 Mei 2026 Bukan Cuti Bersama, Aktivitas dan Sekolah Tetap Normal
Kamis / 28-05-2026, 17:31 WIB
Suzuki Fronx Flex Fuel Siap Meluncur, Bisa Tenggak Etanol Murni E100
Kamis / 28-05-2026, 17:29 WIB
Galaxy A57 5G Andalkan AI dan One UI, Performa Bukan yang Terkencang di Kelasnya
Kamis / 28-05-2026, 17:23 WIB
Astronom Rilis Simulasi FLAMINGO, Petakan Evolusi Alam Semesta
Kamis / 28-05-2026, 17:19 WIB
4 HP dengan Snapdragon 8 Gen 5: Vivo X300 FE hingga Realme Neo 8
Kamis / 28-05-2026, 17:19 WIB
Sergio Ramos Ajukan Penawaran Baru Beli Saham Mayoritas Sevilla
Kamis / 28-05-2026, 17:19 WIB
RB Bragantino Kalahkan Carabobo FC 2-0, Lolos ke Playoff Copa Sul-Americana
Kamis / 28-05-2026, 17:19 WIB
Apple Kembangkan Fitur Anti Copet iPhone yang Terinspirasi dari Android
Kamis / 28-05-2026, 17:18 WIB
IHSG Melemah 76 Poin, Investor Asing Lepas Saham TPIA, BBCA, dan BBRI
Kamis / 28-05-2026, 17:18 WIB
Timnas Mozambik Panggil 25 Pemain Hadapi Indonesia di GBK
Kamis / 28-05-2026, 17:18 WIB
Mobil Listrik Pertama Ferrari Menuai Kritik Pasca Peluncuran
Kamis / 28-05-2026, 17:18 WIB
EA Sports Rilis Pembaruan Besar FC Mobile dengan Mode Turnamen Global
Kamis / 28-05-2026, 17:16 WIB






