Nilai tukar rupiah merosot hingga 54 poin ke level Rp17.855 per dolar AS pada perdagangan Kamis (28/5).

Pelemahan ini dipicu oleh tekanan ekonomi global yang membebani pasar valuta asing domestik.

>>> Bundle Legendary Eclipse Kembali Hadir di Free Fire dengan Desain Futuristik

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai depresiasi rupiah telah melampaui batas wajar fundamental jangka panjang. Menurutnya, rupiah saat ini berada dalam fase overshooting.

"Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, yaitu ketika pelemahannya sudah bergerak lebih dalam dibanding yang dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia," ujar Fakhrul.

Faktor Pemicu Pelemahan

Penguatan dolar AS dan tingginya yield US Treasury menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Dinamika geopolitik dan hambatan dagang internasional turut memperburuk kondisi.

Fakhrul menjelaskan bahwa lonjakan harga energi global biasanya berdampak negatif pada inflasi dan anggaran negara. Namun, kebijakan pemerintah yang menahan harga domestik justru mengalihkan tekanan ke nilai tukar.

"Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang.

Tekanan itu pindah ke kurs," jelasnya.

>>> Manchester United Negosiasikan Transfer Ederson dari Atalanta

Teori Overshooting

Kondisi ini mencerminkan teori Dornbusch Overshooting, di mana sektor finansial merespons disrupsi eksternal secara instan sementara sektor riil bergerak lebih lambat.

Fakhrul menekankan pentingnya kredibilitas kebijakan.

"Yang sedang diuji saat ini bukan hanya fundamental, tetapi kredibilitas dan konsistensi kebijakan," ujarnya.

Ketidakseimbangan antara kebijakan moneter dan fiskal juga memperberat tugas Bank Indonesia.

"Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah, maka Bank Indonesia dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras," kata Fakhrul.

>>> Promo Indomaret Paling Murah 28 Mei–3 Juni 2026, Diskon hingga 40%

Langkah ke Depan

Pemerintah dituntut segera merumuskan langkah taktis untuk mengembalikan kepercayaan pasar. "Pasar membutuhkan roadmap penyesuaian yang jelas dan kredibel," tandas Fakhrul.