Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengumumkan bahwa pemerintah AS akan mengevaluasi kelanjutan perundingan damai dengan Iran dalam beberapa hari ke depan.

Pernyataan itu disampaikan di Washington pada Kamis (28/5/2026).

>>> Olivia Rodrigo Rilis Single Baru 'The Cure', Bukan Cover Band Legendaris

Rubio mengungkapkan adanya kemungkinan tercapainya kesepakatan antara kedua belah pihak. "Ada kesepakatan yang bisa dicapai, dan kami ingin hal itu terwujud.

Saya melihat sudah ada beberapa kemajuan serta ketertarikan (dari kedua belah pihak). Kita akan buktikan dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.

Meskipun mengutamakan jalur diplomatik, Rubio menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump tetap menyiapkan opsi militer jika perundingan menemui jalan buntu.

Pemerintah AS saat ini lebih memilih dialog dan memberikan ruang seluas-luasnya agar kesepakatan tercapai.

Latar Belakang Ketegangan

Hubungan AS dan Iran memanas setelah serangan udara bersama AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu yang menewaskan lebih dari 3.000 jiwa.

Gencatan senjata sempat disepakati pada 7 April, namun negosiasi lanjutan di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa hasil.

>>> Hari Tasyrik 2026: Umat Muslim Rayakan pada 28-30 Mei

AS masih memberlakukan blokade ketat di sekitar pelabuhan dan perairan Iran. Bahkan, serangan sporadis dilaporkan masih terjadi meskipun gencatan senjata tanpa batas waktu telah dideklarasikan.

Isu Nuklir Iran

Rubio sebelumnya mengungkapkan optimisme terhadap peluang kesepakatan nuklir sementara.

Draf kerangka kerja yang diajukan AS meminta Iran menyerahkan seluruh persediaan uranium yang telah diperkaya, namun Teheran belum memberikan persetujuan resmi.

Seorang pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa pembicaraan yang berlangsung bukanlah kesepakatan nuklir final, melainkan perjanjian taktis untuk menunda perdebatan isu nuklir ke masa depan.

Krisis nuklir Iran telah menjadi sumber ketegangan di Timur Tengah selama lebih dari dua dekade.

Ketidakpastian diplomatik diperparah setelah AS menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada era sebelumnya.

>>> BPI Danantara Awasi Kewajaran Harga Ekspor Komoditas Nasional Melalui DSI

Penarikan itu memicu sanksi ekonomi berat bagi Iran dan mempercepat aktivitas nuklirnya. Kegagalan mencapai kesepakatan sementara berpotensi memicu perang terbuka yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia.