Umat Islam bersiap menyambut Hari Tasyrik yang jatuh pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah 1447 H. Dalam kalender Masehi, momen ini bertepatan dengan 28, 29, dan 30 Mei 2026.

Hari Tasyrik berlangsung tepat setelah Idul Adha yang diperingati setiap 10 Dzulhijjah. Waktu ini menjadi momen penting bagi umat Muslim, baik yang sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak.

>>> Luis de la Fuente Minta Spanyol Tampil Maksimal di Piala Dunia 2026

Amalan dan Larangan

Bagi jemaah haji, Hari Tasyrik diisi dengan aktivitas menginap di Mina dan melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.

Sementara itu, umat Muslim di seluruh dunia dilarang berpuasa pada tiga hari tersebut.

Rasulullah menetapkan waktu ini sebagai momen untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Umat dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, dan tasbih.

Masyarakat juga disunnahkan menyantap hidangan daging kurban. Pembagian daging kurban kepada tetangga, kaum dhuafa, dan kerabat menjadi langkah nyata dalam berbagi kebahagiaan.

>>> Crystal Palace Juarai Kompetisi Eropa Pertama Usai Tekuk RB Leipzig

Asal-Usul Nama Hari Tasyrik

Secara bahasa, kata Tasyrik berkaitan dengan sinar matahari. Sebagian ulama menyebut kata ini berasal dari "syariq" yang berarti matahari terbit.

Makna lain merujuk pada "tasyriq" yang berarti memotong daging menjadi irisan tipis untuk dikeringkan.

Pada zaman dahulu, umat Islam menjemur daging kurban di bawah terik matahari agar menjadi dendeng.

Latar belakang Hari Tasyrik tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ketaatan mereka saat menerima perintah penyembelihan menjadi asal mula disyariatkannya ibadah kurban.

>>> Meta Resmi Luncurkan Layanan Berbayar untuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp

Nabi Muhammad kemudian mengukuhkan keistimewaan hari ini saat Haji Wada'. Beliau menetapkannya sebagai hari kebahagiaan, dzikir, dan makan-minum setelah penyembelihan kurban.