Prosesi lempar jumrah merupakan bagian krusial dari ibadah haji. Jutaan jemaah dari seluruh dunia melakukannya di Mina pada hari-hari tasyrik.

Para jemaah melontarkan kerikil ke tiga titik utama: Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Setiap titik dilempar sebanyak tujuh kali.

>>> Ombudsman RI Ajak Santri dan Pengurus Pesantren Laporkan Maladministrasi

Ukuran batu yang dianjurkan lebih besar dari biji adas namun lebih kecil dari kacang. Material seperti tanah keras atau lempung padat juga dinyatakan sah.

Ritual ini berlangsung pada 10, 11, dan 12 Zulhijah, serta dapat berlanjut hingga 13 Zulhijah. Waktu pelemparan fleksibel, dari pagi hingga sore.

Jemaah yang memilih nafar awal dapat meninggalkan Mina setelah lempar jumrah pada 12 Zulhijah. Sementara itu, jemaah yang mengambil nafar tsani wajib bermalam lagi di Mina.

Pandangan Ulama Terkait Kerikil Jumrah

Terdapat keyakinan unik di kalangan sebagian ulama mengenai keberadaan batu-batu tersebut. Sebagian meyakini kerikil dari jemaah yang hajinya mabrur diangkat malaikat ke langit.

Sebaliknya, batu dari lemparan jemaah yang ibadahnya tidak diterima dipercaya tetap tertinggal di area jumrah. Ibnu Umar memberikan kesaksian tentang hal ini.

Catatan sejarah dalam kitab Syifa' Al-Gharam mengisahkan Syaikh Abu Nu'man at-Tabrizi, mantan mufti Masjidil Haram, yang mengaku menyaksikan batu terangkat ke langit.

>>> Naomi Osaka Tampil dengan Baju Tenis Terinspirasi Menara Eiffel di French Open

Buku Fikih Sunnah Jilid 3 karya Sayyid Sabiq memuat dialog mengenai riwayat dari Ibnu Abbas RA. Riwayat itu menjawab kekhawatiran bahwa kerikil akan menumpuk menjadi gunung.

Jika ada yang mengatakan kerikil akan menjadi gunung, maka jawabannya: Allah bisa menerima lemparan dari satu orang dan tidak dari yang lain.

Kemungkinan seperti itu ada.

Sistem Pengelolaan Modern di Jamarat

Sisa batu dari jutaan jemaah tidak dibiarkan menumpuk. Petugas kebersihan mengelolanya secara mekanis menggunakan peralatan khusus dan alat berat.

Seluruh batu yang dilemparkan jatuh ke bagian bawah fasilitas jamarat yang memiliki kedalaman sekitar 15 meter.

Ahmed Al Subhi dari Kidana Development Company menjelaskan bahwa kerikil dikumpulkan menggunakan sistem sabuk berjalan.

>>> Sejarah Trofi Piala Dunia: Disembunyikan di Kotak Sepatu hingga Dicuri Anjing

Batu-batu tersebut kemudian disaring dan disemprot air untuk membersihkan debu. Setelah bersih, kerikil diangkut kendaraan khusus untuk disimpan dan digunakan kembali pada musim haji berikutnya.