Toton Januar kembali menghadirkan koleksi terbarunya bertajuk 'Kala' dalam ajang Mulia in Fashion 2026 di Hotel Mulia Jakarta, Jumat (10/7/2026) malam.

Koleksi ini lahir dari keresahan sang desainer terhadap situasi ketidakadilan di Indonesia.

>>> Akhirnya Buka Suara! Celine Evangelista Umumkan Punya Pasangan Baru, Bantah Tegas Fitnah Jadi Istri Jaksa Agung

Toton mengaku sulit menjadi pribadi yang loyal terhadap bangsa ketika pemerintah tidak berpihak pada kelompok lemah dan minoritas.

Ia bahkan menyebut dirinya bagian dari 'ancaman nasional nonmiliter'.

Baru-baru ini, Peraturan Presiden tentang ancaman nonmiliter yang mencakup 'penyebaran budaya LGBT' kembali ramai dibahas.

Toton menilai kebijakan tersebut diskriminatif dan mengalihkan isu dari masalah negara yang lebih substantif seperti korupsi dan ekonomi.

Keresahan itu ia salurkan melalui 48 set busana yang sebagian besar dibuat dari material daur ulang dan benda lama tak terpakai.

Filosofi Batara Kala, penguasa waktu dalam mitologi Jawa dan Bali, menjadi dasar koleksi ini.

Siluet Nasional dan Material Daur Ulang

Toton menerjemahkan tema secara puitis dengan mendekonstruksi siluet kebaya dan baju kurung.

Vest yang diadaptasi dari kebaya encim dengan bordiran floral hadir dipadukan dengan rok panjang bergelembung, kulot, atau celana jodphur.

Setiap pieces dirancang agar bisa dipadukan dengan jeans, T-shirt, batik, atau wastra. Toton menyebutnya sebagai bentuk nasionalisme lewat berpakaian.

Sebanyak 70-80 persen bahan yang digunakan berasal dari sampah.

>>> Akselerasi B50: Langkah Strategis Perkuat Energi dan Ekonomi Petani Sawit

Toton bekerja sama dengan pemasok benang daur ulang dari Surabaya yang memproses pakaian dan limbah kain menjadi benang bertekstur kasar namun berkarakter.

Taplak renda bekas diaplikasikan tanpa banyak perubahan, memberikan sentuhan rustic dan romantis. Toton mulai mengoleksi taplak vintage saat pandemi COVID-19 sebagai cara melewati masa sulit.