Mengasuh anak dengan sensitivitas tinggi seringkali menguras energi orang tua. Fenomena anak yang sangat perasa kini banyak dibahas dalam edukasi pola asuh di media sosial.

Kepribadian ini membuat anak rentan menangis tiba-tiba, mudah tersinggung, hingga merasa tidak nyaman pada situasi tertentu.

>>> Umat Islam Siapkan Penyembelihan Hewan Kurban Idul Adha 2026

Orang tua perlu mengenali karakteristik ini agar dapat memberikan dukungan emosional yang tepat.

Ciri-Ciri Anak Sangat Perasa

Psikolog klinis Dr. Becky Kennedy menjelaskan bahwa anak sangat perasa memiliki emosi yang jauh lebih intens dibanding teman seusianya.

Mereka cenderung melibatkan perasaan mendalam saat merespons sesuatu.

"Anak dengan karakteristik ini akan merasakan sesuatu secara mendalam dan sering bereaksi secara intens terhadap suatu situasi.

Tak jarang, respons mereka terlihat berlebihan bagi orang-orang di sekitarnya," kata Dr. Becky.

Anak juga sangat peka terhadap lingkungan sekitar dan sering memperhatikan hal-hal yang diabaikan orang lain. Kepekaan ini bukanlah kekurangan, melainkan cara berbeda dalam mengenal dunia.

Kondisi sensitif ini membuat anak mudah menyerap suasana di sekitarnya. Akibatnya, mereka sering memperlihatkan reaksi tidak biasa terhadap hal-hal yang dianggap sepele oleh orang lain.

Dr. Becky menegaskan bahwa sifat sangat perasa tidak bisa disamakan dengan gangguan perkembangan saraf seperti ADHD atau ASD.

Orang tua perlu memahami ciri-cirinya agar tidak salah dalam memahami kondisi anak.

Ciri pertama adalah emosi yang jauh lebih intens, di mana anak mudah merasa gembira, sedih, atau marah dalam waktu cepat.

Kedua, mereka sangat sensitif terhadap lingkungan sehingga mudah kewalahan oleh banyaknya emosi yang terserap.

>>> Resep Semur Daging Sapi Kentang Empuk Meresap untuk Hidangan Idul Adha