Ketiga, anak sering memunculkan rasa takut ditinggalkan karena luapan emosi berlebih membuat mereka sulit berpikir jernih.

Hal ini memicu ciri keempat, yaitu ketergantungan tinggi pada pengasuh yang dianggap mampu memberikan rasa aman.

Kelima, anak sangat sulit menerima perubahan dan cenderung cemas saat menghadapi situasi baru. Keenam, mereka kerap memberikan reaksi berlebihan atau meledakkan emosi yang terpendam.

Terakhir, anak yang sangat perasa memiliki tingkat kesadaran diri yang terlalu cepat.

Kondisi ini membuat mereka sering berpikir berlebihan terhadap respons orang lain, merenung terlalu dalam, hingga menyalahkan kemampuan diri sendiri.

Metode Menghadapi Anak Sensitif

Dr. Becky membagikan beberapa metode yang bisa diterapkan orang tua. Langkah pertama adalah memanfaatkan komunikasi non-verbal yang menyenangkan guna mengurangi tekanan saat emosi anak memuncak.

Kedua, hindari topik pembicaraan yang membuat anak merasa tertekan. Percakapan sebaiknya diarahkan dengan pembawaan santai dan terbuka agar anak merasa aman.

Ketiga, berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya dan jangan memaksakan mereka bercerita sebelum siap. Orang tua cukup memastikan selalu hadir mendampingi.

Keempat, lakukan validasi terhadap emosi anak dengan memahami dan mengakui perasaan mereka. Orang tua dilarang langsung menyanggah agar anak tidak merasa diabaikan.

Kelima, tunjukkan dukungan yang konsisten dalam segala situasi, baik saat anak senang maupun menghadapi masa sulit.

>>> Umat Islam Dilarang Menjual dan Mengupah Jagal Pakai Daging Kurban

Keenam, normalisasi perasaan anak agar mereka paham bahwa emosi tersebut adalah bagian unik dari diri mereka.