Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) mendesak investigasi menyeluruh atas dugaan manipulasi riset berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan oleh sejumlah warga Indonesia.

Praktik ini diduga dilakukan untuk mendapatkan fasilitas perjalanan dan tampil di konferensi internasional.

>>> Monica Bellucci Pukau Cannes dengan Penampilan Anggun dan Pesan Positif

Ketua MGBKI Prof Dr dr Budi Iman Santoso, SpOG(K), MPH menegaskan pentingnya menjaga integritas akademik.

"MGBKI menegaskan bahwa ilmu kedokteran hanya dapat berdiri di atas kebenaran, kejujuran, etika, dan tanggung jawab akademik," kata Prof Budi.

Dugaan pelanggaran mencakup fabrikasi data, falsifikasi hasil riset, plagiarisme, hingga pemalsuan identitas dan afiliasi institusi.

MGBKI meminta proses hukum dan pemeriksaan dilakukan melalui mekanisme audit ilmiah serta etik yang adil, transparan, mandiri, dan berbasis bukti objektif.

"MGBKI tidak mendorong penghakiman di ruang publik, persekusi personal, maupun penyebaran data pribadi. Yang harus ditegakkan adalah kebenaran ilmiah, bukan kegaduhan," ujar Prof Budi.

Desakan audit komprehensif ini diarahkan kepada instansi terkait, penyelenggara konferensi internasional, fakultas kedokteran, rumah sakit pendidikan, hingga komite etik.

>>> Wapres Gibran Salat Iduladha di Istiqlal, Presiden Prabowo di Paris

Pemeriksaan menyeluruh mencakup keabsahan data mentah, persetujuan etik, validitas lokasi serta metode, kontribusi kepengarangan, penyalahgunaan AI, hingga aliran dana grant.

Jika indikasi pelanggaran terkonfirmasi, MGBKI mendorong pencabutan karya ilmiah, pembatalan penghargaan, sanksi etik-akademik, hingga langkah administratif maupun hukum.

"MGBKI memandang peristiwa ini sebagai alarm nasional bagi dunia pendidikan kedokteran dan kesehatan Indonesia," kata Prof Budi.

Guna mencegah kejadian serupa, pembentukan komite integritas riset, verifikasi ketat authorship sebelum publikasi, serta penyusunan pedoman penggunaan AI dalam penelitian ilmiah kini didorong di setiap institusi.

"Ilmu tidak boleh dikalahkan oleh ambisi. Data tidak boleh dikorbankan demi sertifikat.

>>> Cedera Parah, Alex Marquez Absen di GP Italia dan Hungaria 2026

Nama bangsa tidak dijaga dengan menutup kesalahan, tetapi dengan keberanian menegakkan kebenaran," kata Prof Budi.