Palantir, perusahaan teknologi pengawasan besar, kembali menghadapi gejolak internal.

Sebuah video propaganda buatan AI yang dibagikan oleh kepala strategi perusahaan, Eliano Younes, memicu kemarahan di kalangan karyawan.

>>> Cara Nonton Inggris vs Norwegia di Piala Dunia 2026, Streaming Gratis

Video yang dihapus tersebut menampilkan logo Palantir dikelilingi simbol kultus, salib berdarah, dan gambar kematian.

Gaya pemasaran yang provokatif ini memang biasa dilakukan Palantir, namun kali ini dinilai melampaui batas.

Seorang mantan staf mengatakan kepada Financial Times bahwa insiden itu menyebabkan "kekacauan internal absolut" di perusahaan.

Diskusi panas memenuhi saluran internal, dengan banyak karyawan mengungkapkan kekecewaan mereka secara terbuka.

"Ada orang yang berkata, 'Klien saya adalah rumah sakit anak-anak — bagaimana saya harus menjelaskan ini kepada mereka?'" kenang staf tersebut.

>>> Assassin's Creed Unity Dinilai Sebagai Game Paling Diremehkan di Serinya

Ketegangan Sebelumnya dengan ICE

Ini bukan pertama kalinya kepemimpinan Palantir membuat karyawannya tidak nyaman.

Awal tahun ini, karyawan menyatakan rasa jijik mereka terhadap kerja sama perusahaan dengan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE).

Setelah pembunuhan aktivis anti-ICE Renee Good dan Alex Pretti di Minneapolis, seorang karyawan menulis di papan pesan Palantir bahwa "menurut saya, ICE adalah pihak yang jahat.

Saya tidak bangga perusahaan yang sangat saya nikmati ini menjadi bagian dari ini."

Palantir, yang namanya diambil dari bola fiksi dalam "The Lord of the Rings" karya JRR Tolkien, dikenal karena perangkat lunak pengawasan militer dan teknologi kepolisian domestik.

>>> Panduan Terbaru Login WhatsApp Web 2026, Kini Lebih Mudah dan Fleksibel

Perusahaan ini sering menggunakan citra distopia sebagai bagian dari mereknya.