Christopher Nolan kembali menjadi pusat perhatian dengan film terbarunya, adaptasi dari epos Homer, The Odyssey. Namun, sebelum perilisan pekan depan, film ini sudah memicu kontroversi.

Elon Musk dan sejumlah pengaku pembela peradaban Barat mengecam keputusan Nolan yang memerankan Lupita Nyong'o, aktris keturunan Kenya-Meksiko, sebagai Helen of Troy.

>>> PM Baru Inggris Butuh Menteri Luar Negeri Hebat dan Kemampuan Merangkul Negara Sepaham

Musk menyebut langkah itu sebagai "pissing on Homer's grave".

Kritik terhadap warna kulit tokoh mitologi Yunani ini dianggap tidak berdasar. Homer sendiri tidak pernah mendeskripsikan warna kulit Helen secara spesifik.

Di sisi lain, para klasikis justru menyambut gembira. Seperti ditulis Mary Beard dalam blognya "Odyssey fever", mereka antusias menyambut blockbuster Homerik musim panas ini.

The Odyssey menceritakan perjuangan Odysseus selama 10 tahun pulang ke Ithaka setelah Perang Troya. Kisah ini telah diadaptasi berkali-kali, termasuk oleh Virgil, James Joyce, dan Margaret Atwood.

Nolan, yang sukses dengan Oppenheimer, menggarap film ini dengan anggaran sekitar $250 juta. Ia memilih membangun properti dan lokasi secara fisik, bukan dengan efek green-screen.

Film berdurasi tiga jam ini menggunakan sekitar 11 mil seluloid untuk versi Imax. Penonton akan disuguhi pemandangan para pemakan teratai, cyclops, dan dewi-dewi mempesona.

Namun, The Odyssey juga relevan dengan isu modern. Penggambaran pengasingan, kerinduan akan rumah, dan trauma pasca-perang bisa berbicara pada penonton masa kini.

>>> 5 Game Penghasil Uang Terbaru 2026, Cara Cepat Saldo Dana

Emily Wilson, penerjemah The Odyssey, menyebut Odysseus sebagai "complicated"—seorang migran, penyair, suami, ayah, pezina, tunawisma, bajak laut, pencuri, pembunuh massal, dan pahlawan perang.