Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) buka suara terkait dugaan pemalsuan riset ilmiah dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) demi mendapatkan travel grant.

Kasus ini ramai diperbincangkan di media sosial.

>>> Honda Vario 160 Versi 2026 Terdaftar di NJKB Jakarta

Sejumlah orang diduga memalsukan riset untuk mengikuti konferensi internasional di bidang kedokteran, meski bukan berlatar belakang tenaga kesehatan.

"Bukan dokter, bukan perawat, bukan nakes tapi bisa dapat puluhan travel grant selama dua hingga tiga tahun di bidang spesialis kedokteran semua," tulis seorang warganet.

Salah satu terduga pelaku bahkan mencantumkan bio telah mengunjungi lebih dari 50 negara berbekal undangan kongres.

Ranah Etik dan Integritas Akademik

Prof Theddeus Octavianus Hari Prasetyono dari MGBKI menilai persoalan ini lebih masuk ke ranah etik dan integritas akademik.

"Terduga kuat ini adalah persoalan di ranah etik. Tidak langsung menyasar persoalan hukum, kecuali dibawa oleh penyelenggara kegiatan ilmiah," kata Prof Theddeus.

Menurutnya, pihak yang paling berwenang menangani dugaan pelanggaran etik adalah institusi akademik tempat individu tersebut bernaung.

Ia juga menyoroti kemungkinan 'kebobolan' dalam proses seleksi konferensi ilmiah internasional. Jika riset yang diduga tidak valid lolos hingga dipresentasikan, berarti sistem seleksi belum cukup ketat.

"Kalau memang betul riset mereka sampai tembus dan ditampilkan di kegiatan ilmiah, berarti salinan paper yang diterima belum cukup kuat mendeteksi adanya riset yang tidak benar," ujarnya.

>>> Timnas Spanyol Hadapi Jalur Berat Menuju Final Piala Dunia 2026

Travel Grant Berkali-kali Tanpa Kompetisi Ketat

Tanda tanya muncul terkait dugaan travel grant berkali-kali dalam waktu singkat tanpa kompetisi ketat. Menurut Prof Theddeus, umumnya grant penelitian memiliki seleksi dan kuota terbatas.