"Sangat tidak mudah mendapatkan grant. Kalau ada peneliti bisa pergi berpuluh-puluh kali dalam setahun, tentu menjadi pertanyaan besar," ucapnya.

Ia menjelaskan di sejumlah institusi memang ada dukungan dana untuk menghadiri konferensi ilmiah. Namun jumlahnya terbatas dan diberikan berdasarkan capaian kinerja.

"Relatif saya tidak pernah menemukan ada institusi yang bisa memberikan travel grant tanpa kompetisi berkali-kali untuk satu orang staf atau peneliti," lanjutnya.

Prof Theddeus menilai bila dugaan ini benar, penyelenggara konferensi ilmiah internasional perlu mengevaluasi sistem seleksi paper dan pemberian grant.

"Penyelenggara ilmiah dunia juga harus menilik diri, mengapa bisa lolos," katanya.

Meski begitu, ia meminta masyarakat tidak langsung menggeneralisasi kasus ini sebagai gambaran dunia riset Indonesia secara keseluruhan. Indonesia tidak perlu merasa 'rendah diri' atas laporan tersebut.

>>> Pemkot Bontang Pastikan Kelayakan Hewan Kurban Menjelang Iduladha 1447 H

"Pelanggaran etik bisa terjadi di negara maju sekalipun. Itu dilakukan oleh oknum," katanya.