Masyarakat luas mengecam keras dugaan pemalsuan data riset internasional berbasis kecerdasan buatan yang melibatkan dua warga negara Indonesia.

Peristiwa ini terungkap pada Jumat, 29 Mei 2026.

>>> Insinyur Jerman Kembangkan Robot Penjelajah Mars Bisa Berenang di Pasir

Tindakan tersebut dinilai mencederai etika akademik serta merusak reputasi ilmiah Indonesia di tingkat global.

Kronologi dan Pelaku

Skandal ini dilakukan oleh Rivaldy Fajar dan Prihantini.

Keduanya diduga memalsukan data riset AI dan memanipulasi identitas demi mendapatkan fasilitas dana bantuan perjalanan untuk konferensi internasional.

Aksi lancung ini diketahui telah berlangsung sejak tahun 2025. Rekam jejak digital mereka akhirnya terbongkar dalam forum ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Prihantini tidak berkutik setelah diinterogasi mengenai aspek teknis riset oleh seorang epidemiolog bernama Wa Ode Dwi Daningrat.

Reaksi Masyarakat

Seorang mahasiswa bernama Rizki menilai tindakan ini sangat tidak bermoral.

"Menurut saya tidak bermoral karena mencoreng nama Indonesia di mata dunia, dan memengaruhi kredibilitas peneliti Indonesia sehingga tidak dipercaya negara lain," ujarnya.

Kritik tajam juga datang dari warga bernama Arya. Ia menekankan pentingnya validitas data dalam karya ilmiah agar tidak merugikan perkembangan ilmu pengetahuan ke depan.

>>> Harga Honda Jazz Bekas 2020 Stabil Mulai Rp210 Juta

"Jadi, kalau peneliti lain ingin meneliti tentang hal ini, ternyata datanya tidak valid, kesalahannya akan turun-temurun," jelas Arya.

Kekhawatiran mengenai pengawasan seleksi delegasi ilmiah disampaikan oleh Elmo, mantan mahasiswa. Ia menyayangkan kelengahan pihak otoritas dalam menyaring perwakilan yang dikirim ke forum internasional.

"Kenapa orang-orang yang tidak memiliki latar belakang dan kredibilitas jelas bisa dikirim ke luar negeri atas nama negara?

Ini ibaratnya kita bunuh diri," tegas Elmo.

Ia menambahkan bahwa dampaknya akan dirasakan perwakilan peneliti Indonesia ke depan karena nama Indonesia sudah tercoreng.

Desakan perbaikan sistem disuarakan oleh mahasiswa lain bernama Indi. Ia meminta otoritas terkait segera berbenah demi menjaga marwah institusi pendidikan nasional.

"Saya berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh dan menyaring kembali para peneliti nasional agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi," harap Indi.

Dampak dan Tindak Lanjut

Informasi mengenai skandal ini menjadi viral setelah disebarluaskan oleh Bagus Mandhara Brasika melalui platform media sosial. Kedua pelaku kini resmi masuk daftar hitam internasional.

>>> 5 Rekomendasi Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Nyaman dan Serbaguna

Seluruh fasilitas mereka dicabut. Keduanya terkonfirmasi sebagai alumni FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta dan penerima beasiswa LPDP angkatan 2022.