Ilmuwan Oxford Kembangkan Vaksin Ebola Baru untuk Atasi Darurat Global
Para ilmuwan di Oxford University tengah mengembangkan vaksin baru untuk mengatasi situasi darurat kesehatan global akibat peningkatan penularan virus Ebola.
Langkah cepat ini diambil agar sediaan vaksin dapat segera siap digunakan dalam uji klinis dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan ke depan.
>>> Kominfo Blokir 500 Aplikasi Game Penghasil Uang Palsu per Mei 2026
Kondisi mendesak ini dipicu oleh sebaran wabah di Republik Demokratik Kongo yang mencatatkan setidaknya 750 kasus dengan jumlah korban meninggal mencapai 177 jiwa.
Kluster penyakit yang mematikan ini dilaporkan bersumber dari Bundibugyo virus disease (BVD).
Krisis kesehatan ini juga membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan status wabah Ebola sebagai darurat kesehatan masyarakat global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
Pengembangan formula baru ini diupayakan secara maksimal oleh tim medis meskipun masih menghadapi sejumlah tantangan teknis dalam proses laboratorium.
"Ada kemungkinan dosis vaksin tersebut tersedia untuk uji klinis dalam dua hingga tiga bulan, tetapi masih banyak ketidakpastian," kata seorang juru bicara dalam eksperimen tersebut.
Pihak produsen medis belum dapat memastikan tingkat kemanjuran formula mutakhir ini karena pengujian lanjutan masih harus dilakukan.
>>> FIFA Jamin Visa Timnas Iran untuk Piala Dunia 2026
Serangkaian riset pada hewan serta uji coba langsung kepada manusia tetap diperlukan demi membuktikan efektivitas vaksin.
Kendati demikian, tim peneliti menegaskan komitmen mereka untuk mempercepat seluruh proses pengerjaan jika situasi epidemi di lapangan semakin memburuk dan pasokan vaksin eksperimental mendesak untuk segera didistribusikan.
Proyek ini berjalan beriringan dengan riset lain yang memproduksi vaksin eksperimental Bundibugyo secara terpisah, namun memerlukan durasi enam hingga sembilan bulan sebelum dosisnya siap diuji.
Formulasi yang dirancang oleh para ilmuwan Inggris ini mengadopsi platform teknologi ChAdOx1, sebuah basis adaptif yang sebelumnya sukses diaplikasikan dalam pembuatan vaksin selama pandemi COVID-19.
Sistem ini memanfaatkan virus flu biasa dari simpanse yang telah dimodifikasi secara genetik agar aman bagi manusia untuk mengirimkan kode genetik virus Ebola Bundibugyo ke dalam sel.
>>> Park Hang-seo Resmi Latih Klub Liga 2 Thailand Kanchanaburi FC
Melalui metode tersebut, sistem kekebalan tubuh manusia dilatih untuk mengenali dan menangkal infeksi tanpa memicu gejala penyakit Ebola.
Update Terbaru
Hindari Makanan dan Minuman ini Usai Konsumsi Daging Kambing
Selasa / 26-05-2026, 14:13 WIB
Anang-Ashanty Bagikan Momen Jelang Wukuf di Arafah
Selasa / 26-05-2026, 14:09 WIB
Pemprov Sultra Raih Opini WTP ke-13 dari BPK RI
Selasa / 26-05-2026, 14:08 WIB
Laba Bersih Bank Mandiri Tumbuh 18,9 Persen Menjadi Rp 18,1 Triliun
Selasa / 26-05-2026, 14:08 WIB
Sule Bantah Lempar Skrip ke Kru TV, Canda soal Sofa
Selasa / 26-05-2026, 14:08 WIB
Persib Bandung Tunjuk Bojan Hodak sebagai Penasihat Teknis
Selasa / 26-05-2026, 14:03 WIB
Puasa Arafah 2026 Diperkirakan Jatuh pada 26 Mei, Ini Keutamaannya
Selasa / 26-05-2026, 14:03 WIB
Maarten Paes Tepis Dua Penalti, Bawa Ajax Menang Drama Adu Tos
Selasa / 26-05-2026, 14:03 WIB
Profil Zimong TikToker Viral Usai Labrak Wanita Selingkuhan Suami: Umur, Agama dan Akun Instagram
Selasa / 26-05-2026, 14:02 WIB
Jadwal Operasional Bank BRI dan BSI saat Libur Idul Adha 2026
Selasa / 26-05-2026, 13:59 WIB
K-pop Raih Kemenangan Besar di AMA 2026, BTS Bawa Pulang Artist of the Year
Selasa / 26-05-2026, 13:59 WIB
Keindahan Sunset dari 28th Sky Beach Club The Trans Luxury Surabaya
Selasa / 26-05-2026, 13:59 WIB
Busa Deterjen Melimpah Ternyata Menghambat Proses Pencucian Pakaian
Selasa / 26-05-2026, 13:58 WIB
Pasar Mobil Bekas Mulai Diramaikan Chery Omoda C5 Tahun Muda
Selasa / 26-05-2026, 13:58 WIB






