Paus Leo Desak Pembatasan Ketat AI di Medan Perang
Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam sektor militer memicu keprihatinan mendalam dari pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Paus Leo mendesak adanya pembatasan ketat terhadap penggunaan teknologi AI di medan pertempuran.
Langkah ini diambil demi mencegah meluasnya dampak buruk dari revolusi teknologi yang dikendalikan oleh pihak-pihak yang sekadar memburu keuntungan finansial.
>>> BPJS Kesehatan Dorong Pola Hidup Sehat Lewat Fun Run 2026 di Buleleng
Melalui surat ensiklik pertamanya, pemimpin umat Katolik tersebut mengkritik tajam implementasi AI dalam perang.
Sorotan ini mengemuka setelah teknologi penentu target pengeboman diaplikasikan oleh Amerika Serikat dalam ketegangan militer dengan Iran.
"Tidak diperbolehkan mempercayakan keputusan yang mematikan atau yang tidak dapat diubah kepada sistem artifisial," tulis Paus kepada 1,4 miliar umat Katolik di dunia.
Akurasi penentuan target serangan udara memerlukan kendali manusia yang memiliki kesadaran penuh, bertanggung jawab, serta berada dalam rantai akuntabilitas yang jelas.
"Ketika keputusan untuk menyerang diambil secara otomatis atau tidak transparan, risiko pengabaian tanggung jawab meningkat," ujarnya.
Sistem persenjataan modern berbasis AI harus tetap dapat ditelusuri riwayat operasionalnya agar kesalahan fatal tidak dibebankan kepada perangkat komputer.
"Semua sistem yang dipakai dalam situasi perang harus menjamin kemungkinan untuk ditelusuri kembali, sehingga akuntabilitas dan kesalahan tidak direduksi ke 'mesin'," sambungnya.
>>> Linktown Resmikan Kantor Cabang Baru di Semarang
Pernyataan dalam ensiklik ini dipublikasikan setelah Paus Leo melayangkan kritik terbuka terhadap operasi militer AS di Iran, yang memicu reaksi keras dari Presiden Donald Trump.
Meskipun Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth berdalih tindakan tersebut selaras dengan doktrin 'perang yang adil', Vatikan secara tegas menolak pembenaran tersebut.
"Tanpa mengurangi hak untuk membela diri dalam arti yang paling ketat, penting untuk mengeraskan bahwa teori 'perang yang adil' kini sudah usang," tulis Paus Leo.
Ketergantungan pada algoritma rahasia yang dikuasai korporasi besar dinilai berpotensi melahirkan bentuk-bentuk dehumanisasi baru.
Oleh karena itu, tata kelola AI perlu menjadi perhatian serius pemerintah dunia agar tidak merusak sektor pendidikan, lapangan kerja, hingga hubungan sosial.
"Teknologi itu sendiri bukan solusi terhadap masalah umat manusia.
>>> Ratnawati Raih Penghargaan Sekar Agni Negeri atas Dedikasi Pelayanan Publik
Namun, dalam praktiknya, teknologi tidak pernah netral karena mengambil karakteristik dari mereka yang merancang, membiayai, meregulasi, dan menggunakannya," ucapnya.
Update Terbaru
Kapan Waktu Terbaik Berdoa di Hari Arafah? Ini Penjelasan soal Jam Wukuf di Mekkah
Selasa / 26-05-2026, 12:45 WIB
Film Vaterland or A Bule Named Yanto Raih Penghargaan di Cannes 2026
Selasa / 26-05-2026, 12:44 WIB
Jalen Brunson Resmi Jadi MVP Final Wilayah Timur NBA 2026
Selasa / 26-05-2026, 12:44 WIB
Amanode Masuk Regulatory Sandbox OJK untuk Likuiditas Kripto
Selasa / 26-05-2026, 12:44 WIB
Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini: Kunci Komunikasi dan Kepercayaan
Selasa / 26-05-2026, 12:44 WIB
Ipang Wahid, Calon Besan Ahmad Dhani-Mulan Jameela yang Bukan Orang Sembarangan
Selasa / 26-05-2026, 12:43 WIB
Episode 1163 One Piece Raih Rating Tertinggi di Arc Elbaf
Selasa / 26-05-2026, 12:43 WIB
Review Film Star Wars: The Mandalorian and Grogu, Lebih Ringan tapi Tetap Emosional
Selasa / 26-05-2026, 12:43 WIB
Cristiano Ronaldo Kembali Jadi Atlet dengan Bayaran Tertinggi di Dunia 2026 Versi Forbes
Selasa / 26-05-2026, 12:43 WIB
Calvin Dores Alami Serangan Jantung, Dirawat di RS dr. Sutoyo
Selasa / 26-05-2026, 12:43 WIB
Celyna Grace jadi Juara! Inilah Hasil Pemenang Indonesia Season 14
Selasa / 26-05-2026, 12:40 WIB
Buruh FSPMI Jombang Aksi Tuntut Upah Lembur Indomaret
Selasa / 26-05-2026, 12:40 WIB
Jalen Brunson Resmi Jadi MVP Final Wilayah Timur NBA 2026
Selasa / 26-05-2026, 12:39 WIB






