close ads x

Selat Hormuz Milik Siapa dan Apa Dampaknya Jika Benar Ditutup?

Selat Hormuz Milik Siapa dan Apa Dampaknya Jika Benar Ditutup?

ilustrasi selat hormuz--

Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Jalur laut sempit ini dikenal sebagai salah satu rute energi paling vital, sehingga kabar penutupan sekecil apa pun langsung memicu gejolak pasar global.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah siapa sebenarnya yang memiliki Selat Hormuz, apakah Iran benar-benar menutupnya, serta apa konsekuensinya bagi dunia jika jalur tersebut lumpuh.

Status Kepemilikan Selat Hormuz



Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Teluk Persia dan Samudra Hindia. Di sisi utara berbatasan dengan Iran, sedangkan sisi selatan berbatasan dengan Oman serta dekat dengan Uni Emirat Arab.

Pada titik tersempitnya, lebar selat hanya puluhan kilometer. Sebagian wilayah perairannya masuk ke zona teritorial Iran dan Oman. Namun, selat ini tidak dapat diklaim sebagai milik eksklusif satu negara.

Dalam kerangka hukum internasional, Selat Hormuz dikategorikan sebagai jalur perlintasan internasional berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Status ini menjamin hak transit passage bagi kapal dagang maupun militer dari berbagai negara, selama mematuhi aturan navigasi dan tidak mengancam keamanan negara pesisir.


Dengan ketentuan tersebut, Iran maupun Oman tidak dapat menutup Selat Hormuz secara sepihak tanpa menimbulkan konsekuensi hukum dan politik internasional yang serius.

Apakah Iran Menutup Selat Hormuz?

Isu penutupan kembali mencuat di tengah meningkatnya tekanan militer dan ketegangan regional. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan sempat mengirimkan peringatan radio kepada kapal-kapal yang melintas di Teluk Persia.

Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menyatakan Selat Hormuz ditutup secara hukum. Peringatan tersebut lebih bersifat respons situasional terhadap dinamika keamanan, bukan keputusan formal yang mengubah status jalur pelayaran internasional tersebut.

Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Selat Hormuz merupakan jalur distribusi utama minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Diperkirakan sekitar seperlima hingga seperempat pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap hari.

Negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada pasokan energi yang melintasi rute tersebut. Karena itu, kawasan ini menjadi salah satu wilayah laut paling diawasi, dengan kehadiran armada militer dari berbagai negara untuk menjamin keamanan pelayaran.

Dampak Global Jika Selat Hormuz Ditutup

1. Harga Energi Melonjak

Gangguan pasokan minyak dan LNG berpotensi mendorong lonjakan harga energi dunia, yang kemudian memicu inflasi di berbagai negara.

2. Rantai Pasok Terganggu

Industri, sektor transportasi, hingga pembangkit listrik di negara pengimpor energi akan menghadapi tekanan akibat terbatasnya pasokan.

3. Risiko Ekonomi Global

Kenaikan biaya logistik dan premi asuransi pelayaran dapat memperlambat perdagangan internasional dan mengancam pertumbuhan ekonomi global.

Penutupan jangka panjang juga berpotensi merugikan Iran sendiri. Negara tersebut turut mengandalkan jalur ini untuk ekspor minyak dan perolehan devisa. Jika arus pelayaran terhenti, dampak ekonomi domestik bisa menjadi signifikan.

Karena itu, sejumlah analis menilai ancaman penutupan lebih sering digunakan sebagai instrumen tekanan politik dibanding langkah permanen yang benar-benar dijalankan.

Sumber:

BERITA TERKAIT

Berita Lainnya