Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kontribusinya dalam kemandirian kesehatan nasional melalui pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Fasilitas ini diharapkan memperkuat rantai pasok alat kesehatan dalam negeri dan memenuhi kebutuhan medis yang terus meningkat.

>>> Dean Huijsen Jaga Kondisi Fisik di Bali United Training Center

Proyek tersebut juga menjadi pusat kolaborasi antara dunia pendidikan, riset, dan industri.

Pabrik infus yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 itu diproyeksikan menjadi penopang utama kebutuhan alat kesehatan bagi jaringan rumah sakit dan masyarakat luas.

Lahan 14 Hektare untuk Kawasan Industri Terpadu

UMM menyediakan lahan seluas 14 hektare di Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Dari total lahan tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu yang menjadi lokasi pabrik infus.

Kawasan ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari penguatan industri kesehatan nasional.

Pabrik Infus untuk Kepentingan Bangsa

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pembangunan pabrik infus merupakan wujud nyata konsep socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah.

Menurutnya, organisasi keagamaan mampu berperan dalam membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui pengelolaan bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik.

"Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa.

Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak," kata Haedar Nashir.

>>> Pemerintah Salurkan Dana PIP 2026 untuk Siswa Kurang Mampu

Ia menambahkan bahwa agama tidak hanya mengatur aspek akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup urusan muamalah dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis dipandang sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan.