Nilai tukar rupiah bergerak mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (11/6/2026).

Mata uang Garuda ditutup merosot 44 poin ke posisi Rp 17.988 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp 17.944 per dolar AS.

>>> Pemerintah Tetapkan Libur Nasional Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Pelemahan ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen.

Faktor Eksternal Dominan

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai faktor eksternal menjadi pemicu utama fluktuasi rupiah.

Menurutnya, pelaku pasar masih mencermati kuatnya dolar AS, arah suku bunga Amerika Serikat, harga minyak yang tinggi akibat ketegangan di Timur Tengah, serta kebutuhan valas domestik untuk impor, pembayaran utang, dan aktivitas korporasi.

Josua menjelaskan bahwa keyakinan pasar terhadap pemotongan suku bunga acuan oleh The Fed secara agresif dalam waktu dekat belum sepenuhnya terbentuk.

Ia menambahkan bahwa harga minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan valas untuk impor energi, risiko inflasi, dan beban fiskal dari subsidi maupun kompensasi energi.

Kondisi ini membuat investor lebih selektif menempatkan dana di aset negara berkembang.

Pasar saat ini juga mengamati kredibilitas kebijakan fiskal domestik serta efektivitas instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam menarik aliran modal asing.

Josua menilai jika arus masuk masih terkonsentrasi pada SRBI sementara pasar saham dan SBN masih berfluktuasi, maka dukungan terhadap rupiah belum kuat dan berkelanjutan.

>>> Bahlil Pastikan Pemulihan Listrik di Jawa Berlangsung Cepat

Menurutnya, koreksi sekitar 40 poin atau 0,22 persen merupakan tekanan teknikal karena menyentuh level psikologis yang memengaruhi psikologi pasar.