Akibatnya, tekanan yang awalnya kecil bisa membesar apabila tidak diimbangi pasokan valas yang memadai.

Untuk perdagangan Jumat (12/6/2026), pergerakan rupiah diproyeksikan berada pada rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Josua menyebut rupiah berpotensi kembali menguat ke bawah Rp 17.950 per dolar AS apabila dolar AS melemah, harga minyak turun, arus dana asing masuk ke pasar SBN maupun SRBI, serta BI tetap aktif menjaga stabilitas pasar.

Namun, potensi pelemahan lebih dalam masih terbuka jika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat dan terjadi arus modal keluar dari pasar saham dalam negeri.

Josua menekankan bahwa BI sudah berada pada jalur yang tepat untuk menjaga stabilitas rupiah, namun efektivitasnya akan lebih besar apabila didukung kebijakan fiskal yang kredibel, komunikasi pemerintah yang konsisten, serta kepastian regulasi.

Guna mengatasi situasi ini, pemerintah diharapkan menjaga pasokan devisa hasil ekspor dan menegakkan disiplin fiskal.

>>> UMM Bangun Pabrik Infus di Lahan 14 Hektare di Malang, Target Beroperasi 2027

Bagi dunia usaha, strategi yang dinilai tepat adalah memperkuat lindung nilai (hedging) atas kebutuhan valuta asing dan tidak menunda pembelian valas untuk kebutuhan yang sudah pasti.