Hong Kong, yang dikenal sebagai hutan beton, ternyata menjadi rumah bagi populasi kakatua jambul kuning (yellow-crested cockatoo) yang terancam punah.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal akademik internasional Evolutionary Applications mengungkapkan bahwa burung-burung yang diperkenalkan di Hong Kong ini memiliki keragaman genetik yang sangat tinggi.

>>> Resmi Bergabung dengan MCU, Ryan Gosling Siap Memerankan Johnny Blaze dalam Film 'Ghost Rider' yang Disutradarai Shawn Levy

Peneliti dari Universitas Hong Kong (HKU) menemukan bahwa populasi ini berpotensi menjadi cadangan genetik bagi spesies yang terancam punah tersebut.

Astrid Andersson, penulis utama studi tersebut, mengatakan bahwa populasi kakatua di Hong Kong dapat berfungsi sebagai populasi cadangan bagi spesies yang sangat terancam punah ini.

Dari Indonesia ke Hutan Beton Hong Kong

Kakatua jambul kuning berasal dari Indonesia dan Timor Leste. Jumlah mereka menurun drastis akibat perburuan untuk perdagangan hewan peliharaan dan hilangnya habitat.

Saat ini, sebagian besar dari mereka tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Namun, sekitar 200 ekor kakatua jambul kuning telah menemukan perlindungan di Hong Kong.

Jumlah itu mewakili sekitar 10 persen dari populasi global yang tersisa. Andersson menggambarkan angka ini ideal dibandingkan dengan situasi di beberapa pulau di Indonesia.

Yang mengejutkan, burung-burung putih salju yang mencolok ini memilih tinggal di kawasan ramai di Pulau Hong Kong, bukan di pedesaan.

Taman Victoria di Causeway Bay dan Taman Hong Kong di Admiralty menjadi habitat utama mereka. Di sana, mereka menemukan banyak makanan seperti buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, daun, dan bunga.

Pohon-pohon tua dan besar yang dilestarikan di taman-taman tersebut menyediakan lubang bersarang yang ideal bagi burung-burung ini.