Perubahan perspektif ini terasa di seluruh kampus, bahkan di antara mereka yang awalnya merasa terganggu dengan suara panggilan burung yang keras.

Seorang siswa, Asa Tam, mengatakan bahwa mereka semua adalah bagian dari alam dan harus saling menerima.

Kehidupan Baru di Kotak Sarang

Kotak sarang buatan dirancang dengan cermat dengan mempertimbangkan iklim Hong Kong, terutama suhu tinggi dan curah hujan ekstrem.

Struktur ini dibangun untuk mencegah air hujan merembes masuk dan memberikan perlindungan terhadap predator seperti musang, ular, dan burung lain.

Setiap kotak dilengkapi dengan kamera langsung yang memungkinkan peneliti memantau perilaku burung. Namun, kakatua dengan paruh kuat sering merusak kotak dan tampak sensitif terhadap kamera, kadang-kadang merusak perangkat.

Andersson mencatat bahwa meskipun kamera tidak murah dan menimbulkan tantangan perawatan, kamera sangat penting untuk menunjukkan apakah kotak sarang digunakan.

Kamera memungkinkan peneliti melacak telur, kelangsungan hidup anak, dan pemberian makan oleh induk.

Informasi semacam ini belum pernah tercatat untuk spesies ini. Selain penelitian ilmiah, siaran langsung juga memiliki nilai pendidikan yang signifikan.

Beberapa sekolah menggunakan tablet di kelas untuk menayangkan rekaman sehingga siswa dapat mengamati apa yang terjadi di kotak sarang secara real-time.

Proyek ini mencatat keberhasilan yang jelas: setidaknya satu anak burung telah menetas di salah satu kotak. Andersson mengatakan hal itu sangat menjanjikan bagi kelanjutan proyek ini.

Tim menargetkan untuk meningkatkan jumlah kotak menjadi sekitar 50.

>>> Peringati Hari Anak Nasional, Pertamina Ajak Generasi Muda Jadi Green Warriors Penyelamat Bumi

Ke depannya, tim berencana untuk bermitra dengan lebih banyak sekolah, perusahaan, dan individu, serta mengadakan ceramah umum dan lokakarya desain kotak sarang untuk terus meningkatkan kesadaran.