Tim peneliti bekerja sama dengan seorang arborist lokal untuk merancang dan memasang kotak sarang buatan guna memantau populasi kakatua.

Kotak-kotak itu ditempatkan di area yang sering dikunjungi kakatua, dengan prioritas di tempat yang sarang alaminya hilang akibat topan atau pemangkasan pohon demi keselamatan.

Selama setahun terakhir, lebih dari selusin kotak sarang telah dipasang di berbagai lokasi di kota, termasuk taman kota dan sekolah.

Siswa Berubah Menjadi Penjaga Burung

Pada Oktober lalu, Winster Wong, seorang guru di St. Louis School di Sai Ying Pun, melihat sepasang kakatua jambul kuning berulang kali mematuk lubang di pohon kampus.

Perilaku itu berlangsung sekitar dua minggu.

Menyadari burung-burung itu sedang mencoba bersarang, Wong mengingat video tim HKU tentang kotak sarang buatan dan menghubungi mereka.

Hal itu menghasilkan pemasangan dua kotak di sekolah pada April lalu. Andersson kemudian diundang untuk berbicara dalam sebuah pertemuan pagi tentang nasib burung-burung tersebut.

Wong mengatakan bahwa mereka ingin para siswa terlibat, bukan sekadar penonton.

>>> BI dan Pemprov Sumut Perkuat Sinergi Lewat Kreatif Sumut 2026

Sekolah berencana bekerja sama dengan HKU untuk meluncurkan kegiatan lintas disiplin yang profesional namun mudah diakses bagi siswa.

Dengan pemasangan kotak sarang, kakatua semakin sering mengunjungi sekolah. Rooney Cheung, seorang siswa, mengabadikan momen ketika burung-burung itu kembali ke sarang buatan.

Fotonya kemudian memenangkan penghargaan dalam kompetisi bertema lingkungan dan kemanusiaan.

Siswa lain, Owen Yu, membuat model pohon dengan balok untuk menciptakan habitat ideal bagi burung.

Ia mengaku dulu kurang tertarik pada alam, tetapi sekarang tahu bahwa burung-burung itu berharga dan berharap dapat membantu mereka berkembang.