Di era digital, kebiasaan merekam setiap percakapan tanpa sepengetahuan lawan bicara semakin marak, terutama di kalangan pekerja teknologi.

Praktik ini tidak hanya terjadi di lingkungan kerja, tetapi juga dalam kehidupan pribadi, seperti saat berkencan.

>>> Xenosaga Kembali Hidup? Momo Muncul di Xenoblade Chronicles 2 Switch 2

Laporan Wall Street Journal mengungkapkan bahwa banyak orang tidak meminta izin sebelum merekam, yang secara teknis dapat melanggar hukum di beberapa negara bagian.

Aplikasi transkripsi seperti Granola pun semakin populer.

Michelle Lim, CEO platform pemasaran AI Flint, mengaku kecewa jika lupa menyalakan Granola saat rapat. Ia bahkan berharap ada Granola di setiap ruangan.

Lim juga menganggap permintaan izin justru “membunuh suasana”.

Lebih ekstrem lagi, Emmie Chang, pendiri Yuzu Labs, merekam sebagian besar kencan pertamanya dengan meletakkan ponsel di meja atau kursi.

>>> Mantan Kepala PlayStation Ungkap Alasan Sony Tutup Japan Studio

Setelahnya, ia meminta AI Claude milik Anthropic menganalisis jalannya kencan dan mengevaluasi apakah ia bisa lebih empatik.

Kekhawatiran Privasi dan Dampak Psikologis

Para ahli memperingatkan bahaya “cognitive offloading” akibat penggunaan AI secara berlebihan, yang dapat mengikis kemampuan mental.

Selain itu, perekaman tanpa izin berpotensi membocorkan informasi rahasia, menimbulkan interpretasi yang merugikan, atau bahkan mengancam rahasia dagang.

Tidak seperti fitur rekaman Zoom yang memberitahu peserta dengan suara robot, Granola beroperasi secara diam-diam.

Di tempat kerja, karyawan sering tidak punya pilihan selain menerima, kata pakar hukum privasi Alex Alben.

>>> Tsuya Tsuya Luncurkan Manga Spinoff Baru Akatsuki no Logos pada 18 Agustus

Amy Dufrane, eksekutif HRCI, menegaskan bahwa risiko penggunaan pencatat AI sangat besar bagi organisasi. “Saya pikir perusahaan sebaiknya tidak menggunakannya sama sekali,” ujarnya kepada Associated Press.