Kesenjangan antara adopsi teknologi yang pesat dengan ketersediaan talenta ahli siber menjadi celah kritis yang mengancam kedaulatan data nasional.

Pendekatan konvensional dalam keamanan informasi dinilai tidak lagi mencukupi. Diperlukan integrasi kecerdasan buatan (AI) dan sistem pemantauan aktif yang otonom.

>>> Blibli Andalkan Teknologi Platform untuk Tingkatkan Pengalaman Belanja

Menjawab tantangan itu, emiten keamanan siber PT ITSEC Asia Tbk menggandeng PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI.

Kolaborasi strategis ini bertujuan memperkuat sistem pertahanan siber di sektor pemerintahan dan BUMN.

Pengembangan SOC Berbasis AI

Inti kerja sama adalah eksplorasi pengembangan kapabilitas Security Operations Center (SOC) yang lebih mutakhir.

Infrastruktur yang dikembangkan akan mengintegrasikan tenaga ahli teknis dengan solusi teknologi terbaru untuk mendeteksi serangan secara real-time.

President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menekankan bahwa keamanan digital kini menjadi pondasi utama kelangsungan organisasi.

"Organisasi membutuhkan kemampuan melindungi infrastruktur dan data sekaligus memastikan SDM yang mampu mengelola keamanan.

>>> Cara Menghapus Jejak Digital dan Mencegah Penguntitan Siber Setelah Putus

Melalui kerja sama dengan PT INTI, kami ingin mengeksplorasi bagaimana pengalaman ITSEC Asia dapat mendukung kebutuhan BUMN dan pemerintahan," ujar Patrick dalam keterangan resmi, Sabtu (25/7/2026).

ITSEC Cyber & AI Academy

Salah satu inovasi dari kolaborasi ini adalah pendirian ITSEC Cyber & AI Academy.

Lembaga ini menyediakan kurikulum keamanan siber berbasis tantangan nyata di lapangan, bukan hanya teori.

Direktur PT INTI, Herry Jasman, mengatakan sinergi ini merupakan langkah nyata membangun ketahanan nasional di ruang siber.

"Keamanan siber telah menjadi fondasi penting dalam transformasi digital.

>>> Xiaomi 18 Pro Siap Debut Global, Tantang Samsung Galaxy dan iPhone

Melalui kolaborasi dengan ITSEC Asia, PT INTI ingin memperkuat kapabilitas nasional dengan solusi keamanan siber yang lebih komprehensif," kata Herry.