Berakhirnya hubungan asmara di era digital tidak hanya soal memindahkan barang fisik, tetapi juga memutuskan 'tali pusar digital' seperti kata sandi bersama, akses cloud foto, dan kontrol perangkat pintar.

Tanpa mitigasi yang tepat, jejak digital ini bisa menjadi celah bagi penguntitan siber (cyberstalking). Kaspersky menyoroti bahwa banyak individu tetap terhubung secara digital meski secara emosional telah berpisah.

>>> Xiaomi 18 Pro Siap Debut Global, Tantang Samsung Galaxy dan iPhone

Contoh ekstrem adalah penggunaan layanan reservasi restoran atau riwayat pemesanan transportasi daring untuk melacak pergerakan mantan pasangan secara real-time.

Ini merupakan pelanggaran privasi data yang serius.

Langkah Digital Breakup: Audit dan Putus Akses

Langkah pertama adalah melakukan audit total terhadap sesi aktif di seluruh platform media sosial dan email.

Fitur Multi-Device Management pada aplikasi modern memungkinkan pengguna memutus akses perangkat asing dari jarak jauh.

>>> MacBook Neo 2 Siap Gebrak Pasar 2027, Chip A19 Pro dan RAM 12GB Jadi Standar Baru

Kaspersky menekankan penggunaan Password Manager untuk mengganti kata sandi 'nostalgia' seperti tanggal jadian dengan kredensial unik yang dihasilkan algoritma.

“Fase pasca-selesai dari sebuah hubungan tidak otomatis memutuskan ikatan digital. Akses yang pernah diberikan tetap aktif sampai dimatikan secara manual,” ujar pakar keamanan Kaspersky.

Mitigasi Stalkerware dan IoT

Salah satu ancaman canggih adalah Stalkerware, perangkat lunak yang dipasang diam-diam untuk memantau aktivitas ponsel.

Teknologi keamanan siber kini memiliki fitur 'Who’s Spying on Me' yang mendeteksi aplikasi pelacak tersembunyi di Android.

>>> Qualcomm Siapkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 Versi Murah, Akhiri Era HP Flagship Mahal

Selain itu, akses ke ekosistem Smart Home seperti kamera CCTV, bel pintu pintar, dan pelacak GPS kendaraan harus segera dicabut.