Namun, menurut American Cancer Society, diagnosis pada orang di bawah 55 tahun meningkat dua kali lipat antara 1995 dan 2019.

Diagnosis stadium lanjut pada pasien di bawah 50 tahun terus meningkat sekitar 3% per tahun.

Apa yang Diketahui dan yang Belum Terbukti

Studi ini membangun hubungan yang kuat, tetapi tidak membuktikan bahwa colibactin bertindak sendiri menyebabkan kanker.

Alexandrov dan timnya memandang racun tersebut sebagai kontributor utama yang mungkin, dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menunjukkan bagaimana bekas seluler awal ini berubah menjadi tumor.

Berbicara kepada The Guardian, Alexandrov menjelaskan mengapa E. coli mungkin menghasilkan senyawa berbahaya tersebut.

Bakteri sering melepaskan racun untuk membasmi mikroba saingan di usus, sebuah strategi bertahan hidup standar dalam evolusi mikroba.

Namun, dalam prosesnya, colibactin tampaknya secara tidak sengaja merusak DNA sel usus manusia di sekitarnya.

Christopher Johnston, peneliti genomik mikroba di MD Anderson Cancer Center, menyebut temuan colibactin sebagai bagian yang berpotensi kritis dari teka-teki ini.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah mengapa anak-anak saat ini mungkin membawa tingkat bakteri penghasil racun yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya.

>>> Kuasa Hukum dr. Tifa Tantang Jokowi Buktikan Keaslian Ijazah di Pengadilan

Tim Alexandrov berharap penelitian di masa depan dapat menjawab pertanyaan tersebut.