Trump Restui Saudi Kembangkan Nuklir, Israel Mulai Khawatir
Israel mulai waswas setelah Amerika Serikat memberikan restu kepada Arab Saudi untuk melakukan pengayaan uranium dalam rangka mengembangkan energi nuklir.
Program tersebut menekankan pada pengayaan uranium untuk kepentingan sipil, bukan untuk membuat senjata nuklir.
>>> Perludem Wanti-wanti Ambang Batas Parlemen Naik dalam RUU Pemilu
Meski demikian, pejabat Israel khawatir kerja sama nuklir sipil antara AS dan Saudi berpotensi diselewengkan Riyadh menjadi senjata nuklir.
Pembangkit yang diusulkan akan memiliki kapasitas untuk memperkaya uranium dan mengolah kembali bahan bakar nuklir bekas tanpa pengawasan menyeluruh.
Kerja sama yang disetujui Presiden AS Donald Trump itu juga mengancam menghapus insentif utama untuk mendorong Saudi melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Pemerintah Joe Biden sebelumnya menjanjikan akses nuklir dengan syarat Saudi bersedia membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Kini Trump berencana melanjutkan program nuklir sipil tanpa syarat apa pun, meskipun kesepakatan tersebut belum diumumkan secara publik oleh pemerintahan Trump atau diakui resmi oleh pemerintah Saudi.
Menurut laporan Reuters, kesepakatan nuklir itu akan diserahkan kepada Kongres untuk ditinjau tetapi hanya dapat diblokir dengan mayoritas dua pertiga suara.
Menteri Kebudayaan dan Olahraga dari Partai Likud Miki Zohar mengatakan telah mengingatkan AS tentang batasan terkait kesepakatan nuklir dengan Saudi.
>>> Purbaya: Pengadaan Kipas Angin Kopdes Rp1,8 T Tanggung Jawab Agrinas
Ia juga mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih mendiskusikan isu tersebut dengan para penasihat dan ahli keamanan.
Para lawan politik Netanyahu melontarkan kritik keras dan menilai perjanjian AS-Saudi sebagai bencana strategis.
Mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman menilai program nuklir sipil untuk Arab Saudi pada akhirnya akan berujung pada kepemilikan senjata nuklir dan memicu perlombaan senjata di Timur Tengah.
Ketua Partai Demokrat Israel Yair Golan mengatakan kesepakatan itu menciptakan realitas berbahaya bagi Israel.
Seorang purnawirawan jenderal militer itu menuduh Netanyahu telah mencapai sesuatu yang mustahil.
"Ia sekaligus kehilangan peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan memungkinkan negara itu memperoleh kemampuan nuklir," ujarnya.
Peneliti senior di Institute for National Security Studies (INSS) Yoel Guzansky mengatakan pada masa pemerintahan Joe Biden, kerja sama nuklir AS-Saudi dikaitkan dengan proses normalisasi hubungan Riyadh dengan Israel.
Update Terbaru
Ketua DPP PDIP: MBG Warisan Jokowi, Jangan Tebang Pilih Menilai Kebijakan
Kamis / 23-07-2026, 16:56 WIB
Piala Dunia 2030 Diklaim Diikuti 64 Tim, FIFA Belum Konfirmasi
Kamis / 23-07-2026, 16:56 WIB
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Buka Sayembara Tangkap Begal Hadiah Rp50 Juta
Kamis / 23-07-2026, 16:56 WIB
Komdigi Perketat Pengawasan Registrasi SIM Biometrik, Operator Diminta Awasi Seluruh Gerai
Kamis / 23-07-2026, 16:56 WIB
Elliot Page Tampil Bergandengan Tangan dengan Pacar di Premiere The Odyssey
Kamis / 23-07-2026, 16:56 WIB
Sosok Julian, Pacar Baru Olivia Rodrigo yang Bekerja di Bidang Finance
Kamis / 23-07-2026, 16:52 WIB
iCAR Siap Luncurkan V27 Berteknologi REEV di GIIAS 2026
Kamis / 23-07-2026, 16:52 WIB
Motor Listrik VinFast Mulai Dikirim Juli, Prioritas untuk Pemesan Awal
Kamis / 23-07-2026, 16:52 WIB
Indiana Fever Hadapi Connecticut Sun Sebelum Jeda All-Star WNBA
Kamis / 23-07-2026, 16:49 WIB
Cara Hasilkan Saldo DANA 150.000 Lewat Aplikasi Word Draw 2026
Kamis / 23-07-2026, 16:49 WIB
Set Lego Donkey Kong Arcade yang Bisa Dimainkan Akhirnya Dirilis, Bisa Dibeli Sekarang
Kamis / 23-07-2026, 16:47 WIB
PT Organics Tarik Produk Puree Buah yang Dijual di Ritel Besar
Kamis / 23-07-2026, 16:47 WIB
Las Vegas Aces Hadapi Mystics Tanpa Kierstan Bell karena Cedera
Kamis / 23-07-2026, 16:47 WIB
Panini Comics Umumkan Tanggal Rilis Manga Star Wars Jedi Vol 3
Kamis / 23-07-2026, 16:42 WIB







