Modus penipuan atau scam yang mengincar turis terus berkembang.

Kini, laporan Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) dan Departemen Luar Negeri AS menyoroti ancaman baru: polisi dan aparat penegak hukum gadungan.

>>> OJK Bubarkan Dana Pensiun Bank CIMB Niaga, Ini Alasannya

Modus ini tidak hanya lewat telepon yang meminta transfer uang, tetapi juga terjadi langsung di mana pelaku menyamar sebagai petugas kepolisian saat menyasar turis yang bepergian.

Taktik Umum Polisi Gadungan

Philip Farina, pendiri Risky Business Security and Safety Advisors, membeberkan taktik umum yang digunakan polisi palsu.

"Taktik paling umum adalah pura-pura melakukan pemeriksaan dokumen atau paspor, serta pemeriksaan uang palsu," ujarnya melansir Travel + Leisure.

Hal ini bisa terjadi di mana saja, bahkan beberapa langkah dari bandara atau kantor polisi asli. Jika mendapat kesempatan, pelaku akan kabur membawa barang berharga korban.

Pelaku juga bisa menggunakan kendaraan tanpa atribut resmi untuk menghentikan mobil korban di jalan dan mencuri barang penumpang.

Ciri-ciri Polisi Gadungan

Farina mengungkapkan bahwa wisatawan dapat memperhatikan beberapa indikasi awal dari penampilan fisik dan gerak-gerik pelaku.

Seragam yang dikenakan polisi gadungan sering kali tampak lusuh, tidak rapi, atau tidak sesuai standar resmi kepolisian setempat.

Pelaku cenderung bersikap gugup, paranoia, dan kerap menoleh ke berbagai arah karena takut petugas polisi asli muncul.

>>> Universitas Republik Indonesia Fokus pada Pengembangan STEM

Kendaraan yang digunakan (jika ada) tidak memiliki stiker, lambang, atau tanda pengenal resmi yang memadai.

Langkah Antisipasi Sebelum Bepergian

Jika dihampiri seseorang yang mengaku petugas, jangan ragu meminta kartu identitas resmi (ID card), atau meminta nama serta nomor telepon atasan/komandan yang bertugas.