Kawasan Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, ditetapkan sebagai proyek percontohan (pilot project) ekonomi biru (blue economy) yang didukung Uni Eropa.

Delegasi Uni Eropa dan 12 negara anggota mengunjungi wilayah ini pada 16-17 Juli untuk meninjau hasil kerja sama selama enam tahun terakhir.

>>> Viral Kasus Pelecehan Seksual di Tanjungbalai: Guru PNS Diduga Bawa Siswa SD ke Rumah, Warga Murka dan Kepung Mapolres

Para duta besar terpukau oleh keindahan alam Likupang yang dinilai bagaikan surga tersembunyi.

Kunjungan ini merupakan bagian dari program 'Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle' yang dijalankan oleh Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia bersama Kementerian Kehutanan RI.

Pendanaan berasal dari Uni Eropa melalui KfW Development Bank Indonesia.

Selain Likupang, delegasi juga mengunjungi kawasan konservasi lain seperti Desa Gangga Dua dan Desa Bahoi.

Pendapatan Nelayan Melonjak

Salah satu pencapaian program ini adalah perubahan pola pikir masyarakat pesisir dalam menjaga ekosistem laut tanpa mengorbankan kesejahteraan ekonomi.

Country Director KfW Development Bank Indonesia, Burkhard Hinz, menceritakan perbincangannya dengan seorang nelayan yang pendapatannya melonjak dua kali lipat.

Hal itu terjadi bukan karena modal atau alat baru, melainkan karena cara menangkap ikan yang berbeda.

Di Desa Gangga Dua, penutupan musiman perikanan bagan yang disepakati bersama nelayan berhasil mendongkrak pendapatan dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta per musim.

"Pendapatan nelayan jadi berlipat ganda hanya karena pola penangkapan ikan yang diubah," tegas Hinz.

>>> Cara Cek PIP Kemendikdasmen dan Aktivasi Rekening

Perubahan pola pikir ini membuat nelayan mulai memperhatikan waktu-waktu tertentu dalam setahun untuk melaut agar hasil tangkapan tetap lestari.