Gelombang kemarahan publik kembali menyelimuti Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, menyusul terungkapnya dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) terhadap muridnya sendiri yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kasus yang terungkap pada pertengahan Juli 2026 ini tidak hanya mencoreng dunia pendidikan, tetapi juga memicu gelombang protes masif dari masyarakat yang menuntut keadilan bagi korban cilik tersebut.
 
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden mengerikan ini bermula ketika sang guru diduga memanfaatkan posisinya untuk membawa korban laki-laki tersebut ke kediaman pribadinya. Alih-alih mendapatkan bimbingan atau perlindungan layaknya seorang pendidik, korban justru diduga menjadi sasaran perbuatan asusila yang dilakukan oleh guru tersebut bersama dengan suaminya di dalam rumah.
 
Kronologi yang terdengar sangat mencengangkan ini dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut hingga ke berbagai platform media sosial. Kabar tentang hilangnya rasa aman di lingkungan pendidikan tersebut sontak memicu amarah warga setempat. Rasa empati terhadap nasib korban yang masih sangat belia berubah menjadi aksi massa yang tak terbendung.
 
Puncak ketegangan terjadi pada Rabu malam, 22 Juli 2026. Ratusan warga yang murka terlihat memadati area sekitar Mapolres Tanjungbalai. Mereka membawa tuntutan agar aparat penegak hukum memproses kasus ini secara transparan dan tegas, tanpa pandang bulu terhadap status pelaku sebagai seorang PNS.
 
Dalam sejumlah video yang viral dan beredar luas di media sosial, suasana di depan kantor polisi terlihat sangat tegat namun terkendali. Massa terlihat mengawal seorang wanita yang diduga kuat sebagai guru pelaku. Wanita yang saat itu masih mengenakan seragam dinas tersebut tampak digiring oleh warga menuju kantor kepolisian untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Update Terbaru