>>> Gabung Persija, Nadeo Argawinata Siap Buktikan Diri di Hadapan Jakmania

Biasanya, pada tahap kedua penyakit—saat penurunan kognitif semakin cepat—terjadi penumpukan protein tau tambahan.

Tubuh Doug, karena alasan yang masih diteliti, mencegah proses ini menjadi tidak terkendali.

Pemindaian otak menunjukkan Doug memiliki penumpukan amiloid yang signifikan, namun protein tau tetap terbatas hanya di satu bagian otaknya.

Cairan serebrospinalnya juga menunjukkan kadar "protein kejutan panas" yang sangat tinggi.

Protein ini diproduksi oleh sel saat stres—seperti panas ekstrem atau sinar UV—dan bertindak sebagai pendamping yang membantu menstabilkan, melipat, dan memperbaiki protein lain.

"Kami belum memahami apakah atau bagaimana protein kejutan panas ini berperan," jelas Dr. Llibre-Guerra. "Namun, dalam kasus ini, mereka mungkin membantu mencegah agregasi dan pelipatan salah protein tau."

Para peneliti menduga bahwa bertahun-tahun Doug berkeringat sebagai montir di laut mungkin telah meningkatkan kadar protein pelindung ini.

Jika mekanisme resistensi ini dapat diungkap, terapi yang ditargetkan suatu hari bisa dikembangkan untuk menunda atau mencegah Alzheimer.

Implikasi Lebih Luas dan Pertanyaan yang Tersisa

Penulis studi menekankan bahwa berbagai penelitian praklinis, klinis, dan epidemiologis menunjukkan bahwa peningkatan suhu inti tubuh dapat membantu menghilangkan protein tau.

Hal ini menyoroti termoregulasi sebagai faktor yang dapat dimodifikasi.

Namun, ini masih merupakan hipotesis tunggal yang menarik dan perlu divalidasi oleh penelitian lebih lanjut.

>>> John Herdman Puji Dukungan Bali United untuk Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2026

Bagi siapa pun yang khawatir tentang risiko Alzheimer, konsultasi dengan tenaga medis profesional tetap menjadi langkah terbaik.