Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengklaim selalu berkomunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei setiap hari.

Klaim ini muncul di tengah isu kematian orang nomor satu di Iran dan perang yang kian intens dengan Amerika Serikat.

>>> Menhub Desak KAI Percepat Tambah Rangkaian KRL Green Line

Pezeshkian mengatakan tingkat komunikasi dengan Mojtaba semakin tinggi setiap harinya.

"Kini, berkat komunikasi yang lebih intens dan akses yang lebih luas kepada pemimpin kita tercinta, seluruh langkah sudah diatur berdasarkan arahan beliau," kata dia saat pidato di Hari Industri dan Pertambangan Nasional, Selasa (21/7), dikutip Al Jazeera.

Pezeshkian lalu menyebut rakyat Iran membutuhkan dukungan Mojtaba untuk bergerak. "Kami akan terus melangkah maju dengan penuh kekuatan," imbuh dia.

Pernyataan ini muncul usai Presiden AS Donald Trump meyakini 90 persen Mojtaba sudah tewas. Sejak menjadi pemimpin tertinggi, Mojtaba memang tidak pernah tampil di publik.

Pernyataan hanya disampaikan melalui tulisan di media sosial atau dibacakan presenter media televisi pemerintah Iran. Namun, sejumlah pejabat Iran membantah klaim Trump.

Pernyataan Pezeshkian juga muncul saat Iran saling serang dengan Amerika Serikat.

>>> Kamboja Dua Kali Jadi Lawan Perdana Indonesia di Piala AFF: Laga Alot

Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan AS menggempur pertahanan Iran di Selat Hormuz dan sejumlah infrastruktur sipil di negara Timur Tengah itu.

AS bahkan menyerang jembatan-jembatan yang menjadi jalur logistik militer dan ekonomi krusial bagi Iran.

Salah satu serangan terjadi di Provinsi Hormozgan dan menghancurkan enam jembatan strategis, salah satunya menghubungkan rute Bandar Abbas ke Lar dan Rudan.

Iran tak tinggal diam, mereka meluncurkan serangan balasan ke pangkalan AS di negara-negara Arab dan menggempur armada AS di Laut Arab atau Teluk Oman.

Di kesempatan terpisah, Pezeshkian bahkan mengumumkan Iran sedang terlibat dalam "perang skala penuh."

>>> Mendagri Tito Dorong Transparansi Program Rehab-Rekon Pascabencana

Perang itu, kata dia, bukan cuma soal rudal, tapi menyasar perekonomian dan mata pencaharian rakyat Iran.