Industri penerbangan global menghadapi masalah lingkungan yang tak terduga: kekurangan pasokan pesawat baru.

Maskapai mencatat jumlah penumpang rekor, tetapi banyak yang terbang dengan pesawat tua karena pabrikan tidak mampu mengirimkan jet baru cukup cepat.

>>> Akses Instagram dan Facebook Berangsur Pulih Setelah Error Massal

Menurut perkiraan armada terbaru Oliver Wyman, sekitar 17.000 pesanan pesawat belum terpenuhi pada awal 2026.

Backlog ini bisa memakan waktu lebih dari 12 tahun untuk diselesaikan dengan tingkat produksi saat ini.

Keterlambatan ini berdampak pada penumpang, maskapai, dan planet.

Pembaruan armada yang tertunda berarti kemajuan efisiensi bahan bakar lebih lambat, sementara industri penerbangan berada di bawah tekanan untuk mengurangi emisi.

Armada Hijau Terhambat

Sebanyak 5,2 miliar orang diperkirakan bepergian lewat udara pada 2025, dan pendapatan penumpang global akan melampaui $1 triliun untuk pertama kalinya.

Namun, pesawat yang mengangkut penumpang justru semakin tua.

Oliver Wyman mencatat usia rata-rata armada komersial global mendekati 13 tahun pada 2025, sekitar satu setengah tahun lebih tua dari 2024.

Jam terbang rata-rata per pesawat naik 2% tahun ke tahun.

Pesawat baru biasanya lebih hemat bahan bakar, sehingga setiap keterlambatan pengiriman memperlambat kemajuan lingkungan.

Oliver Wyman memperkirakan efisiensi bahan bakar hanya akan meningkat 1% pada 2026, di bawah kenaikan tahunan 1,5% hingga 2% di tahun-tahun sebelumnya.

Mengapa Pabrik Tak Mampu Mengejar

Rantai pasokan pesawat terhambat oleh kekurangan bahan baku, keterbatasan tenaga kerja, volatilitas geopolitik, tarif, dan kesulitan meningkatkan produksi setelah bertahun-tahun gangguan.

Oliver Wyman juga menyoroti meningkatnya permintaan pesawat militer dan pertahanan sebagai tekanan tambahan pada pengiriman pesawat komersial.