Airbus dan Boeing, dua raksasa di pusat pasar, sama-sama berjuang mencapai target produksi ambisius mereka.

Airbus memegang 49% buku pesanan dan Boeing 38%, sementara jet lorong tunggal mendominasi pesanan baru karena maskapai menginginkan pesawat yang lebih efisien untuk rute sibuk.

Backlog 17.000 pesawat memaksa maskapai menerbangkan pesawat yang lebih tua dan kurang efisien, mempersulit jalan menuju keberlanjutan.

Sisi pertahanan penerbangan juga tumbuh, menciptakan persaingan lebih ketat untuk material, suku cadang, mesin, dan pekerja terampil.

Basis industri yang sama yang mendukung jet penumpang juga diminta merespons dunia militer yang lebih tegang.

Proyeksi Oliver Wyman menunjukkan armada pesawat militer global akan berkembang 13,4% dalam dekade mendatang, dari 44.700 pesawat pada awal 2026 menjadi 50.700 pada awal 2036.

Sebagian besar belanja diarahkan ke drone tempur dan pesawat canggih lainnya.

>>> Tanda Sakit Halus pada Anjing Sering Terlewatkan, Studi Ungkap

Bagi maskapai komersial, persaingan tidak hanya datang dari operator lain, tetapi juga dari program pertahanan yang membutuhkan mesin, avionik, titanium, komposit, dan teknisi terlatih.

Pabrik tidak bisa meregang dalam semalam.

Ketika maskapai tidak bisa mendapatkan pesawat baru, mereka mempertahankan pesawat lama. Hal ini mendorong pekerjaan perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) menjadi sorotan.

Oliver Wyman memperkirakan permintaan MRO global mencapai $136 miliar pada 2025, naik dari $126 miliar pada 2024.

Pada akhir dekade ini, belanja diperkirakan mendekati $193 miliar, hampir dua kali lipat level 2019. Mesin adalah salah satu bagian paling sensitif.

Industri sangat bergantung pada sejumlah terbatas sistem turbofan generasi berikutnya untuk jet lorong tunggal.

Ketika perbaikan mesin atau pasokan suku cadang tertinggal, maskapai merasakannya dengan cepat.