Banyak orang percaya bahwa sering meregangkan leher hingga berbunyi 'krek' bisa memicu stroke. Benarkah demikian?

Percakapan di media sosial ramai membahas seorang perempuan yang terkena stroke karena kebiasaan tersebut.

>>> Jadwal Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Ujian Pertama dari Kamboja

Kebiasaan 'kretek' leher memang sering dilakukan saat kepala dan leher terasa pegal, karena bunyi 'kretek' memberi sensasi rileks sesaat.

Fakta di Balik 'Kretek' Leher dan Stroke

Beberapa kasus stroke ditemukan bermula dari kebiasaan meregangkan leher hingga berbunyi 'kretek'. Seorang perempuan AS, KayLynne Felthager, mengalami stroke setelah membunyikan persendian lehernya saat sakit kepala.

Ia merasakan nyeri tajam yang menjalar ke leher, kesulitan menggerakkan kepala, dan akhirnya tidak bisa bicara jelas. Dokter mendiagnosisnya terkena stroke.

Dokter saraf Priyam Bordoloi menegaskan, meski jarang terjadi, kebiasaan itu bisa memicu stroke yang mengancam jiwa. "Leher berisi arteri karotis dan vertebralis yang membawa darah ke otak.

Putaran tiba-tiba dan kuat dapat merobek lapisan dalam arteri ini," jelasnya.

>>> TelkomGroup dan BW Digital Resmi Mendaratkan Kabel Laut NCC di Batam

Cedera tersebut menyebabkan robekan dinding arteri, penggumpalan darah, hingga penyumbatan aliran darah ke otak.

Diseksi arteri serviks akibat trauma atau tekanan berat pada leher menjadi salah satu penyebab utama stroke pada orang sehat di bawah 45 tahun.

Bordoloi mengingatkan agar tidak memaksakan membunyikan persendian leher, karena tulang belakang dan pembuluh darah di leher harus ditangani dengan hati-hati.

Tanda-Tanda Peringatan Stroke

Bordoloi meminta masyarakat mengingat tanda peringatan stroke: salah satu sisi wajah terkulai atau senyum tidak simetris, kelemahan atau mati rasa mendadak pada salah satu lengan, dan bicara cadel atau sulit berbicara.

>>> Doa Menyembelih Ayam dan Tata Cara yang Benar Menurut Islam

Segera cari perawatan medis jika mengalami gejala tersebut. Jangan menunggu hingga membaik.