Banyak orang tua mengira tinggi badan anak hanya ditentukan oleh asupan makanan.

Ketika anak tampak lebih pendek dari teman sebayanya, perhatian langsung tertuju pada susu, vitamin, atau porsi makan.

>>> Belajar Geologi dan Sejarah Bumi di Museum Geologi Bandung

Faktanya, pertumbuhan anak tidak hanya bergantung pada nutrisi. Ada faktor lain yang tak kalah penting, yaitu kualitas tidur.

Hormon Pertumbuhan Aktif Saat Tidur

Tidur bukan sekadar waktu istirahat. Saat anak memasuki fase tidur nyenyak (slow-wave sleep), tubuh melepaskan hormon pertumbuhan (growth hormone).

Menurut studi di jurnal Frontiers in Endocrinology (2024), sebagian besar pelepasan hormon pertumbuhan terjadi pada awal tidur malam.

Hormon ini berperan penting dalam pembentukan tulang, otot, dan jaringan tubuh yang mendukung tinggi badan.

Tidur yang terlalu singkat atau sering terganggu dapat mengurangi produksi hormon pertumbuhan secara optimal.

Nutrisi Tetap Diperlukan

Meski tidur penting, anak tidak bisa tumbuh tinggi hanya dengan tidur lebih lama. Pertumbuhan tetap membutuhkan nutrisi sebagai 'bahan baku'.

Studi di jurnal Economics and Human Biology (2016) menunjukkan asupan protein pada usia 6-24 bulan berkaitan positif dengan pertumbuhan tinggi badan.

Protein diperlukan untuk membentuk jaringan baru dan memperkuat tulang.

>>> Bank Mandiri Dorong Ekonomi Sirkular di Road to INACRAFT Festival 2026

Hormon pertumbuhan memberikan sinyal untuk tumbuh, tetapi proses itu tidak optimal jika tubuh kekurangan nutrisi.

Tidur dan Nutrisi Saling Melengkapi

Tidak tepat jika mengatakan tinggi badan lebih dipengaruhi tidur daripada makanan, atau sebaliknya. Keduanya saling melengkapi.

Tidur berkualitas membantu produksi hormon pertumbuhan, sedangkan nutrisi menyediakan zat gizi untuk perkembangan tulang dan jaringan.