Respons Ancaman Houthi, Saudi Mau Genjot Operasi Militer di Yaman
Arab Saudi dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk meningkatkan operasi militer terhadap kelompok Houthi di Yaman, termasuk meluncurkan serangan ofensif.
Sejumlah pejabat AS dan Timur Tengah mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) bahwa Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman mengisyaratkan Amerika Serikat telah memberi lampu hijau untuk langkah tersebut.
>>> BSKDN Ajak Mahasiswa KKN Uncen Kembangkan Inovasi Berbasis Kearifan Lokal
Meski demikian, pemimpin Saudi belum mengambil keputusan final. Diskusi internal menunjukkan adanya perbedaan pendapat di kalangan pejabat kerajaan.
Pembahasan ini terjadi di tengah eskalasi perang AS dan Iran serta gencatan senjata Saudi-Houthi yang telah berlangsung empat tahun mulai teruji akibat baku tembak terbaru.
Pekan ini, Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke Kota Abha di barat daya Saudi.
Mereka mengklaim serangan itu sebagai balasan atas bom di landasan pacu bandara Sanaa pada 13 Juli lalu.
Menurut Houthi, serangan di bandara Sanaa dilakukan Saudi untuk mencegah pesawat Iran mendarat yang membawa pejabat Houthi menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pemerintah resmi Yaman yang didukung Saudi mengaku bertanggung jawab atas serangan di bandara Sanaa dengan alasan penerbangan Iran melanggar kedaulatan Yaman.
>>> Pertamina Ungkap Penyebab Antrean BBM di Medan
Usai diserang, Saudi menyatakan berhasil mencegat seluruh rudal dan drone Houthi. Pertempuran ini berpotensi memperparah krisis kemanusiaan di Yaman dan mengguncang pasar energi serta ekonomi Saudi.
Sejak Iran berupaya menguasai Selat Hormuz, Laut Merah menjadi jalur utama ekspor minyak Saudi dengan sekitar 4,5 juta barel per hari dikirim melalui Pipa Timur-Barat.
Pakar Yaman Mohammed Al Basha mengatakan kepada MEE bahwa tidak ada solusi mudah.
"Kesepakatan damai berarti miliaran dolar ganti rugi, sementara perang memiliki peluang 50-50 bagi kemenangan Saudi," ujarnya.
Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi pada Kamis (16/7) mengancam semua fasilitas vital Saudi akan menjadi sasaran jika Riyadh menyerang Yaman.
>>> Persib Isyaratkan Buru Pemain Asing Baru Usai Lepas Frans Putros
"Bandara untuk bandara, pelabuhan untuk pelabuhan, blokade untuk blokade," katanya.
Update Terbaru
Saham SpaceX Anjlok Usai Gagal Luncurkan Starship
Jumat / 17-07-2026, 22:42 WIB
Pemukul Pemilik Rumah dengan Stik Baseball Picu Baku Tembak SWAT di Normal Heights
Jumat / 17-07-2026, 22:42 WIB
Indonesia Resmi Jadi Anggota Pendiri WAICO, Pemerintah Siapkan Roadmap AI
Jumat / 17-07-2026, 22:42 WIB
Presiden Prabowo soal Harga Beras: Suruh Tanam Sendiri
Jumat / 17-07-2026, 22:42 WIB
Tom Brady Celupkan Rob Gronkowski ke Tangki Saus Cane's
Jumat / 17-07-2026, 22:38 WIB
Prabowo: Indonesia Diproyeksikan Jadi Negara Terkaya Keempat Dunia pada 2050
Jumat / 17-07-2026, 22:38 WIB
AREBI Banten Sertifikasi 260 Broker Properti, Sanksi Mulai Oktober 2026
Jumat / 17-07-2026, 22:38 WIB
Thorn Fire Capai 10 Persen Terkendali, Evakuasi Berlanjut
Jumat / 17-07-2026, 22:36 WIB
Jaksa Ragu Permintaan Cucu John Gotti Tunda Penjara Demi Donasi Ginjal ke Ibunya
Jumat / 17-07-2026, 22:35 WIB
Desiigner Aniaya Pacar yang Gendong Bayi, Polisi Ungkap Kronologi
Jumat / 17-07-2026, 22:35 WIB
Mantan Suami Bintang 'Secret Lives of Mormon Wives' Dihukum Kasus DUI
Jumat / 17-07-2026, 22:35 WIB
Penyusup 'TODAY' Show Akui Ingin Panggil Selebriti Kulit Hitam dengan Kata-N
Jumat / 17-07-2026, 22:35 WIB
Spanyol vs Argentina: 6 Faktor Penentu Juara Piala Dunia 2026
Jumat / 17-07-2026, 22:35 WIB
Langgar Tradisi FIFA, Donald Trump Tetap akan Serahkan Trofi Juara Piala Dunia 2026
Jumat / 17-07-2026, 22:35 WIB







